Senin, 30 September 2013

Keep The Secret !

Amsal 11: 9 – 13 

(9) Dengan mulutnya orang fasik membinasakan sesama manusia, tetapi orang benar diselamatkan oleh pengetahuan.(10) Bila orang benar mujur, beria-rialah kota, dan bila orang fasik binasa, gemuruhlah sorak-sorai.(11) Berkat orang jujur memperkembangkan kota, tetapi mulut orang fasik meruntuhkannya.(12) Siapa menghina sesamanya, tidak berakal budi, tetapi orang yang pandai, berdiam diri.(13) Siapa mengumpat, membuka rahasia, tetapi siapa yang setia, menutupi perkara.

Santapan rohani hari ini :

“Sstt…jangan bilang- bilang ya.. Ibu A kan sedang begini begitu dengan suaminya. Saya tahu loh karena mendengar sendiri mereka sedang bertengkar hebat tadi malam. Pokoknya ramai deh”.

Ibu S yang merasa menjadi topik pembicaraan menjadi merah padam mukanya mendengar orang- orang di sekitarnya tengah membicarakan diri dan suaminya. Ia sangat sedih, marah dan kecewa karena orang –orang yang selalu latihan koor di gereja bersamanya  menjadi perbincangan yang sama sekali tidak memberinya solusi.

Kalau pun benar tentang sesuatu hal terjadi dalam diri seseorang, adalah bijak jika kita menyimpan perkara itu dan menjadikannya isu bagi banyak orang yang tak berkepentingan. Adalah lebih bijaksana jika kita tahu seseorang tengah dalam kemelut hidup, kita dukung di dalam doa. Kalau pun sempat berbagi , baiklah dukungan yang positif kita lakukan sehingga menjadi kekuatan bagi mereka yang tengah berada dalam masalah.

Begitu banyak anggota jemaat yang kecewa berhadapan dengan perilaku jemaat lain yang tidak setia. Membocorkan rahasia orang berarti mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan seseorang. Sengaja atau tidak, dampaknya merusak relasi antara sesama manusia.

Kitab Amsal hari ini mengingatkan , perkataan yang semberono dapat membinasakan sesame, bahkan meruntuhkan kota. Ketidakmampuan memyimpan rahasi juga menandakan ketidaksetiaan dan ketidakmampuan pengendalian diri.

Mari kita pilih kata- kata kita untuk menjaga persekutuan kita dengan orang lain. Pepatah “diam itu emas”, kadang kala memang efektif dari pada “talk to much”



Minggu, 29 September 2013

Doa dia, Doa saudara kepada yang lainnya

Kejadian 18 : 1 – 5

(1) Kemudian TUHAN menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre, sedang ia duduk di pintu kemahnya waktu hari panas terik.(2) Ketika ia mengangkat mukanya, ia melihat tiga orang berdiri di depannya. Sesudah dilihatnya mereka, ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka, lalu sujudlah ia sampai ke tanah,(3) serta berkata: "Tuanku, jika aku telah mendapat kasih tuanku, janganlah kiranya lampaui hambamu ini.(4) Biarlah diambil air sedikit, basuhlah kakimu dan duduklah beristirahat di bawah pohon ini;(5) biarlah kuambil sepotong roti, supaya tuan-tuan segar kembali; kemudian bolehlah tuan-tuan meneruskan perjalanannya; sebab tuan-tuan telah datang ke tempat hambamu ini." Jawab mereka: "Perbuatlah seperti yang kaukatakan itu."

Santapan rohani hari ini :

Bagaimana rasanya ketika saudara melihat seseorang yang begitu gigih berjuang  membela perkara yang sedang dialami? Orang tersebut berargumentasi dengan gigih sementara posisi saudara betul- betul terpojok, tinggal menunggu vonis?

Hal itulah yang dilakukan oleh Abraham ! Dengan penuh keberanian Abraham berargumentasi, bernegosiasi dengan Allah. Abraham melakukan tawar- menawar dengan Tuhan mengenai jadi atau tidaknya Allah menjatuhkan hukuman atas Sodom dan Gomora.

Antara Tuhan dan Abraham mencapai kesepakatan ! Sekali pun hukuman atas Sodom dan Gomora tetap dilaksanakan, namun anugerah Allah tetap dinyatakan. Allah dengan segala kemurahanNya kepada orang- orang yang percaya kepada Dia.

Melalui Lot dan keluarganya, Allah mengingat  perjanjianNya dengan Abraham untuk tetap memelihara alam semesta ini. Allah mengingat Lot karena doa yang dinaikkan Abraham.

Doa syafaat adalah seruan permohonan kepada Tuhan atas nama pihak lain. Saudara dan saya berdoa demi keselamatan dan kesejahteraan orang lain. Dan kalau kita mau jujur, bukankah iman dan kehidupan kita saat ini dikarenakan karena ada orang yang berdoa untuk kita terlebih dahulu?

Jika saudara sudah mengalami pemeliharaan Tuhan karena doa yang pernah dinaikkan oleh orang lain, mengapa tidak, saat ini giliran saudara yang berdoa bagi orang yang lainnya?

Jika hari ini ada seseorang yang terberkati dan menerima jawaban Allah atas pergumulannya karena doa- doa saudara, percayalah, saudara adalah juga disebut anak- anak Abraham.

Lakukanlah dengan setia !


Sabtu, 28 September 2013

Berpikir Positif Di Tengah Masa Sulit

Filipi 4 : 2 - 9

(2) Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan.(3) Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.(4) Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!(5) Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!(6) Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.(7) Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.(8) Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.(9) Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.

Santapan rohani hari ini :
Tiak mudah menemukan orang yang memiliki intergritas dan bisa mempengaruhi orang lain. Salah satu yang banyak mempengaruhi kehidupan umat Tuhan di Filipi adalah seorang Rasul Paulus.

Pengalamannya bertemu Kristus yang sungguh dahsyat, sungguh mempengaruhi seluruh jalan hidup dan tindakan- tindakan yang dia lakukan. Termasuk bagaimana dia memberi dorongan kepada jemaat di Filipi ketika mereka mencemaskan diri mereka dan rasul itu.

Paulus meminta jemaat gembalaanNya itu  memberikan beberapa nasihat demikian:

Pertama, agar mereka mereka menjaga kesatuan dan kesehatian di antara umat di tengah masalah yang sedang dihadapi. Keegoisan hanya membuat kehancuran diantara umat.

Kedua, tetap bersukacita dan berbuat baik. Di tengah masa krisis, bukankah banyak orang lebih memilih menyelamatkan diri sendiri daripada kepentingan orang banyak? Sebagai umat Tuhan, jemaat di Filipi diingatkan bahwa Tuhan memanggil mereka untuk menyatakan kebaikan kepada sesama dalam keadaan apa pun.

Ketiga, kita tidak perlu kuatir dengan apa pun juga, karena dalam doa yang dinaikkan kepada Allah kita bisa ungkap apa pun yang menjadi keinginan hati kita. Berdoa berarti kita menyerahkan kepada Allah atas apa pun yang terjadi dalam hidup ini.

Keempat, memikirkan dan melakukan segala sesuatu dengan sebaik- baiknya. Berpikir  mengenai hal- hal yang baik adalah langkah utama untuk tidak dikuasai masalah. Namun kemenangan akan kita dapatkan jika kita mempraktikkan semua pikiran baik tersebut.

Mari kita menyikapi segala situasi hidup dengan melakukan apa yang Rasul Paulus nasihatkan. Percayalah! Merenungkan dan melakukan firman Tuhan akan membuat kita berbahagia.


Jumat, 27 September 2013

Tuhan Tahu Kebutuhanku

Yosua 19 : 1 - 23
(1) Undian yang keduapun keluarlah bagi suku Simeon, untuk suku bani Simeon menurut kaum-kaum mereka. Milik pusaka mereka ada di tengah-tengah milik pusaka bani Yehuda.(2) Sebagai milik warisan mereka menerima: Bersyeba, Syeba, Molada,(3) Hazar-Sual, Bala, Ezem,(4) Eltolad, Betul, Horma,(5) Ziklag, Bet-Hamarkabot, Hazar-Susa,(6) Bet-Lebaot dan Saruhen: tiga belas kota dengan desa-desanya.(7) En-Rimon, Eter, dan Asan: empat kota dengan desa-desanya;(8) juga segala desa di sekeliling kota-kota tadi, sampai ke Baalat-Beer, yakni Rama yang di Tanah Selatan. Itulah milik pusaka suku bani Simeon menurut kaum-kaum mereka.(9) Milik pusaka bani Simeon diambil dari bagian bani Yehuda. Karena bagian bani Yehuda itu terlalu besar bagi mereka, maka bani Simeon menerima milik pusaka di tengah-tengah mereka.(10) Undian yang ketigapun keluarlah bagi bani Zebulon menurut kaum-kaum mereka. Batas milik pusaka mereka sampai ke Sarid.(11) Ke sebelah barat batas mereka itu naik ke Marala, menyinggung Dabeset, kemudian menyinggung sungai yang mengalir lewat Yokneam.(12) Dari Sarid batas itu berbalik ke timur, ke arah matahari terbit, melalui daerah Kislot-Tabor, menuju Dobrat, naik ke Yafia;(13) dari sana terus ke timur, ke arah matahari terbit, ke Gat-Hefer, ke Et-Kazin, menuju ke Rimon, dan melengkung ke Nea.(14) Kemudian batas itu membelok mengelilinginya di sebelah utara Hanaton, dan berakhir di lembah Yiftah-El.(15) Lagi Katat, Nahalal, Simron, Yidala dan Betlehem; dua belas kota dengan desa-desanya.(16) Itulah milik pusaka bani Zebulon menurut kaum-kaum mereka; kota-kota tadi dengan desa-desanya.(17) Bagi suku Isakhar keluarlah undian yang keempat, yakni bagi bani Isakhar menurut kaum-kaum mereka.(18) Daerah mereka ialah Yizreel, Kesulot, Sunem,(19) Hafaraim, Sion, Anaharat,(20) Rabit, Kisyon, Ebes,(21) Remet, En-Ganim, En-Hada dan Bet-Pazes.(22) Batas daerah itu menyinggung Tabor, Sahazima dan Bet-Semes; dan batas daerah mereka berakhir di sungai Yordan; enam belas kota dengan desa-desanya.(23) Itulah milik pusaka suku bani Isakhar menurut kaum-kaum mereka, kota-kota itu dengan desa-desanya.

Santapan rohani hari ini :
Setelah bangsa Israel mengalami pertempuran demi pertempuran, akhirnya Allah menggenapi janjiNya bagi bangsa itu mendapatkan tanah perjanjian. Sekali pun demikian, bukan berarti mereka bisa suka- suka menempatinya sekehendak hati mereka, namun Tuhan menghendaki pembagian yang adil.

Kepada suku Simeon diberikanNya tempat yang di tengah- tengah milik pusaka bani Yehuda. Sekali pun milik Yehuda lebih luas, tetapi maksud dan rencana Allah terhadap suku Simeon adalah menyokong mereka berkembang kelak setelah mengalahkan orang Amalek dan menduduki daerah itu.

Kepada suku Zebulon dan Isakhar pun Tuhan juga sama melakukan sesuai dengan keadilanNya.  Suku- suku Israel itu dapat menerima pembagian dari Tuhan dan menerimanya dengan sukacita.

Ada prinsip rohani yang dapat kita pelajari dalam kisah ini. Bukankah seringkali sebagai manusia yang lemah dan terbatas kita sering tidak merasa puas dengan apa yang sudah Tuhan berikan ? Kita mengaggap Tuhan tidak adil . Atau kita menganggap diri kita lebih tahu dengan kebutuhan daripada Tuhan sendiri.

Ketidakpuasan ! Itu yang sering melanda manusia, termasuk kita orang percaya. Betapa sering kita merasa tidak cukup dengan apa yang sudah Tuhan berikan. Kita tidak rela jika orang lain seakan- akan hidupnya lebih diberkati oleh Tuhan.

Hari ini kita mau belajar bersyukur atas apa yang sudah Tuhan berikan kepad kita. Hari ini kita belajar untuk meyakini keputusan Tuhan dalam memberikan berkatNya kepada masing- masing kita sudah sesuai dengan keadilanNya.


Bersediakah saudara ?

Kamis, 26 September 2013

Kerja Adalah Untuk Memuliakan Tuhan

II Tesalonika 3 : 7 - 13

(7) Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu,(8) dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun di antara kamu.(9) Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti.(10) Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.(11) Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna.(12) Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri.(13) Dan kamu, saudara-saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik.

Santapan rohani hari ini :

May Day adalah hari dimana para buruh se- Indonesia melakukan demonstrasi dengan damai dengan harapan pemerintah dan kalangan pelaku usaha memperhatikan kesejahteraan mereka.

Hari Buruh menjadi satu event di mana mereka dapat menyampaikan pesan- pesan atau hal – hal yang dapat mempebaiki taraf hidup mereka. Sungguh memprihatinkan memang nasib para buruh di tengah mahalnya biaya hidup. Andai mereka menerima Rp.2.2 juta per bulan, sementara mereka punya istri dan anak yang masih kecil dan bersekolah, rasanya dengan jumlah yang demikian sungguh berat.

Namun tentu itu bukan akhir dari segalanya. Bukan berarti dengan demikian kehidupan menjadi lumpuh. Sebagai orang percaya, kita meyakini pemeliharaan Allah dalam hidup ini. Yang paling penting kita menyadari beberapa ha, yaitu :

Pertama, apa pun tugas kita , kita bekerja supaya Allah dimuliakan ( Kolose 3 : 23 )
Kedua, tentu kita akan bekerja tidak sama dengan mereka yang belum mengenal Tuhan. Setiap tugas yang kita kerjakan,adalah suatu kesempatan untuk memperkenalkan Kristus bagi yang belum mengenal Dia ( I Tes 4 : 11 -12 )
Ketiga, pekerjaan yang dipercayakan kepada kita mempunyai tujuan ganda, yaitu untuk menunjukkan kasih kepada Allah dan manusia ( Mat 22 : 37 – 40 )
Keempat, menjaga kelangsungan keluarga yang sudah dibina terutama masa depan anak- anak ( I Tim 5 : 8 ).

Sesungguhnya jika pesan- pesan dalam Alkitab dihayati oleh setiap orang percaya, baik itu bos/majikan dan karyawan/buruh, akan menjadi suatu harmonisasi yang indah. Penting bagi untuk menjaga kualitas dari apa yang menjadi bagian pekerjaan kita.

Selamat bekerja dan berprestasilah !


Rabu, 25 September 2013

Bersukacita Dan Bukan Marah

Yunus 3 : 10 – 4 : 11

(10) Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.(1) Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.(2) Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.(3) Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup."(4) Tetapi firman TUHAN: "Layakkah engkau marah?"(5) Yunus telah keluar meninggalkan kota itu dan tinggal di sebelah timurnya. Ia mendirikan di situ sebuah pondok dan ia duduk di bawah naungannya menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu.(6) Lalu atas penentuan TUHAN Allah tumbuhlah sebatang pohon jarak melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, agar ia terhibur dari pada kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu.(7) Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas penentuan Allah datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu.(8) Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: "Lebih baiklah aku mati dari pada hidup."(9) Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: "Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?" Jawabnya: "Selayaknyalah aku marah sampai mati."(10) Lalu Allah berfirman: "Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula.(11) Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?"

Santapan rohani hari ini :

Bagaimana saudara bereaksi  ketika melihat orang jahat atau yang pantas dihukum ternyata mendapat belas kasihan dari Allah? Atau seseorang yang sudah mencelakakan hidup saudara atau orang lain mendapat pengampunan yang nampaknya demikian mudah didapatkannya?

Yunus ketika mendapat panggilan Allah untuk Niniwe mangkir dan menunjukkan kekesalan yang luar biasa kepada Tuhan. Bagaimana tidak? Dalam pandangannya, bangsa Niniwe tidak pantas mendapat pengampunan dari Tuhan, mereka layak dihukum.

Kenyataannya bangsa itu mau berbalik kepada Tuhan. Seharusnya Yunus bersukacita dan bersyukur, namun reaksi nabi itu malah sebaliknya. Ia tetap kesal, marah dan bahkan seperti kecewa pada Allah. Belas kasih Allah membuat Yunus marah.

Inisiatif Allah mendahului respon manusia. Kasih karunia Allah lebih besar dari dosa yang kita lakukan. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu , tetapi pemberian Allah”.(Efesus 2 : 8)

Jika kita sungguh- sungguh menerima kasih karunia Allah, tentu dengan sukacita dan kesungguhan kita akan membagi berita itu kepada siapa pun yang kita temui. Daripada kita marah- marah seperti Yunus ketika Allah menunjukkan kasihNya kepada orang  lain, akan lebih baik kita bersyukur dan bersukacita dengan malaikat di surga, karena telah terjadi pertobatan.

Jangan berhenti mengasihi orang lain, karena kasih Allah kepada kita kekal adanya.


Selasa, 24 September 2013

Kembali Ke Kubang Dosa

II Korintus 12: 20 – 13: 5

(20) Sebab aku kuatir, bahwa apabila aku datang aku mendapati kamu tidak seperti yang kuinginkan dan kamu mendapati aku tidak seperti yang kamu inginkan. Aku kuatir akan adanya perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, fitnah, bisik-bisikan, keangkuhan, dan kerusuhan.(21) Aku kuatir, bahwa apabila aku datang lagi, Allahku akan merendahkan aku di depan kamu, dan bahwa aku akan berdukacita terhadap banyak orang yang di masa yang lampau berbuat dosa dan belum lagi bertobat dari kecemaran, percabulan dan ketidaksopanan yang mereka lakukan.(1) Ini adalah untuk ketiga kalinya aku datang kepada kamu: Baru dengan keterangan dua atau tiga orang saksi suatu perkara sah.(2) Kepada mereka, yang di masa yang lampau berbuat dosa, dan kepada semua orang lain, telah kukatakan terlebih dahulu dan aku akan mengatakannya sekali lagi--sekarang pada waktu aku berjauhan dengan kamu tepat seperti pada waktu kedatanganku kedua kalinya--bahwa aku tidak akan menyayangkan mereka pada waktu aku datang lagi.(3) Karena kamu ingin suatu bukti, bahwa Kristus berkata-kata dengan perantaraan aku, dan Ia tidak lemah terhadap kamu, melainkan berkuasa di tengah-tengah kamu.(4) Karena sekalipun Ia telah disalibkan oleh karena kelemahan, namun Ia hidup karena kuasa Allah. Memang kami adalah lemah di dalam Dia, tetapi kami akan hidup bersama-sama dengan Dia untuk kamu karena kuasa Allah.(5) Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.

Santapan rohani hari ini :

Ingatkah saudara pada salah satu kasus aktor Indonesia yang pernah tersangkut masalah narkoba dan dipenjarakan sebanyak dua kali karena kasus yang sama ? Bersyukur ia didampingi seorang istri yang takut akan Tuhan, yang mau mengasihinya dan berupaya keras untuk mengembalikannya ke jalan yang benar.

Banyak orang percaya yang tergoda kembali dalam hidup yang lama. Rasul Paulus melihat itu terjadi di jemaat Korintus. Mereka kembali ke dosa  masa lalu, melakukan dosa- dosa mencolok yang merusak relasi antara sesama dan dosa seksual. Posisi kota Korintus yang merupakan daerah pelabuhan sangat terkenal dengan kehidupan imoralitasnya.

Dosa dengan segala daya pikatnya mampu mempengaruhi jemaat itu. Berkali- kali Rasul Paulus menegur agar mereka mengubah cara hidupnya, tetapi mereka seperti dibuai . Diperlukan suatu teguran keras dan upaya koreksi diri dari  mereka.

Dosa memang memikat dan menjalar seperti penyakit kanker yang ganas. Dosa bisa masuk lewat mana saja, lewat pergaulan, teknologi media, internet, dan sebagainya. Sikap kompromi menyebabkan kita pun dapat dicemari oleh dosa tanpa kita sadari.

Apa yang perlu dilakukan oleh seorang Kristen sejati? Paulus  mengatakan demikian,”ujilah dirimu sendiri!”. Kalau secara fisik kita perlu medical checkup, maka masalah kerohanian pun kita perlu lebih intens lagi.

Adakah daftar dosa yang disebutkan oleh Rasul Paulus yang menguasai saudara saat ini ?
Ingat, dosa membuat pandangan kita tentang Allah menjadi tumpul.




Senin, 23 September 2013

Tanya Tuhan

II Samuel 2: 1 - 7

(1) Kemudian bertanyalah Daud kepada TUHAN, katanya: "Apakah aku harus pergi ke salah satu kota di Yehuda?" Firman TUHAN kepadanya: "Pergilah." Lalu kata Daud: "Ke mana aku pergi?" Firman-Nya: "Ke Hebron."(2) Lalu pergilah Daud ke sana dengan kedua isterinya: Ahinoam, perempuan Yizreel, dan Abigail, bekas isteri Nabal, orang Karmel itu.(3) Juga Daud membawa serta orang-orangnya yang mengiringinya masing-masing dengan rumah tangganya, dan menetaplah mereka di kota-kota Hebron(4) Kemudian datanglah orang-orang Yehuda, lalu mengurapi Daud di sana menjadi raja atas kaum Yehuda. Ketika kepada Daud diberitahukan bahwa orang-orang Yabesh-Gilead menguburkan Saul,(5) maka Daud mengirim orang kepada orang-orang Yabesh-Gilead dengan pesan: "Diberkatilah kamu oleh TUHAN, karena kamu telah menunjukkan kasihmu kepada tuanmu, Saul, dengan menguburkannya(6) Oleh sebab itu, TUHAN kiranya menunjukkan kasih dan setia-Nya kepadamu. Akupun akan berbuat kebaikan yang sama kepadamu, karena kamu telah melakukan hal yang demikian.(7) Kuatkanlah hatimu sekarang dan jadilah orang-orang yang gagah perkasa, sekalipun tuanmu Saul sudah mati; dan aku telah diurapi oleh kaum Yehuda menjadi raja atas mereka."
Santapan rohani hari ini :

Mengapa seorang Daud disebut sebagai biji mata Allah ? Relasinya yang indah dengan Tuhan menjadi catatan tersendiri bagi kehidupan kita sebagai anak- anakNya.

Kerinduan Daud untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah membuat ia mempertanyakan apakah ia harus pergi ke salah satu kota Yehuda. Saat itu Daud tinggal di Ziklag, daerah teritori orang Filistin. Daud mempertanyakan apakah itu saat yang tepat untuk kembali ke tanah airnya.

Meskupun sebuah pertanyaan yang sepele, Daud menanti jawaban Tuhan sekalipun peluang menjadi raja untuk menggantikan Saul sudah terbuka. Ia tidak membabi buta untuk mengambil posisi Saul yang telah wafat. Ia mencari tahu dulu apa yang Tuhan kehendaki.

Daud menunjukkan kesabaran yang luar biasa dalam menunggu Tuhan bertindak memenuhi janjiNya. Ia sangat bergantung pada Tuhan dan menjalankan kehendakNya dari pada mengikuti ambisi seorang manusia.

Tindakan Daud menjalani teladan bagi kita. Bagaimana dengan diri saudara? Apakah kita mempunyai cukup waktu untuk bertanya, bergumul , dengar- dengar-an dengan Tuhan untuk kehidupan yang sedang dijalani?


Jangan pernah anggap remeh sesuatu pun. Tanya Tuhan, walau mungkin itu bukan hal yang penting menurut orang lain.

Minggu, 22 September 2013

Ciptaan Baru

II Korintus 5 : 12 - 21

(12) Dengan ini kami tidak berusaha memuji-muji diri kami sekali lagi kepada kamu, tetapi kami mau memberi kesempatan kepada kamu untuk memegahkan kami, supaya kamu dapat menghadapi orang-orang yang bermegah karena hal-hal lahiriah dan bukan batiniah.(13) Sebab jika kami tidak menguasai diri, hal itu adalah dalam pelayanan Allah, dan jika kami menguasai diri, hal itu adalah untuk kepentingan kamu.(14) Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati(15) Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.(16) Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian.(17) Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.(18) Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.(19) Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.(20) Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.(21) Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.

Santapan rohani hari ini :

Apakah yang paling dikenang dari orang yang menorah sejarah dalam hidup saudara ? Dalam hal ini saya mengenang ayah saya yang menanamkan nilai kejujuran sejak kecil.

Saya pernah menyaksikan ayah saya ditawari uang oleh salah salah satu orang tua     yang punya jabatan. Ayah yang adalah merupakan kepala sekolah saat itu, menolak menerima uang tersebut. Uang sepuluh juta rupiah untuk tahun 1980-an bukanlah jumlah yang sedikit.

Saya ingat apa yang ayah katakan pada salah satu orang tua murid, “Saya akan tolong putra Ibu X, tetapi silahkan ambil kembali uang ini.” Kami akan tolong dengan cara yang wajar dan bukan dengan hal yang curang.”

Saya kagum, karena meja kerja papa yang ada di balik himpitan lemari dokumen sekolah tidak ada siapa- siapa, tapi ayah saya mampu menjaga integritas sebagai pendidik  yang tidak bisa dibeli hanya untuk mengatrol nilai seorang anak pejabat sekali pun. Saya hanya “kebetulan” melihat dan mendengar ,

Hidup baru di dalam Kristus selayaknya menjadikan kita menjadi orang yang mampu menjaga integritas kita sebagai anak-anakNya. Iman kita diuji bukan pada saat Alkitab terbuka di hadapan kita, atau pada saat kita mendengarkan kotbah, atau pada saat keadaan kita sedang baik- baik saja. Kesadaran kita akan Kristus yang mengasihi kita sebagai orang yang berdosa , yang menyebabkan kita menjadi orang- orang yang mampu menguasai diri.

Orang akan tahu bahwa kita ada di dalam Kristus , manakala melihat perbuatan- perbuatan kita yang mempermuliakan namaNya, entah itu secara tersembunyi atau terang- terangan.

Saya mencontoh dari seorang ayah, siapakah yang menjadi inspirasi saudara untuk hidup dalam pimpinan Tuhan dan menaruh kepercayaan hanya kepadaNya? Siapa pun yang memimpin dan mendekatkan saudara kepada Kristus, ikutilah teladannya.

Karena kita tahu persis, di dalam Dia kita menjadi ciptaan baru, yang  menyebabkan nilai hidup kita tidak sama dengan orang- orang dunia.  


Sabtu, 21 September 2013

Arti Seorang Ayah

Efesus 6 : 1 - 4

(1) Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.(2) Hormatilah ayahmu dan ibumu--ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini:(3) supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.(4) Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

Santapan rohani hari ini :

Apakah arti kehadiran seorang ayah dalam suatu keluarga ? Bagaimana peran yang diinginkan seorang anak akan seorang ayah dalam hidupnya ? Dalam buku Father’s Connection karya Josh Mc Dowell, ada tiga hal penting tentang masalah – masalah yang dihadapi remaja.

Pertama, sebagian besar pelanggaran hukum yang dilakukan oleh mereka  seperti tawuran, memakai dan menjadi pecandu zat adiktif dan lain- lain, dilakukan oleh para remaja dan pemuda bukan karena kemiskinan, tetapi karena ketidakhadiran ayah. Mereka tidak memiliki figure bapak yang dapat mencontohkan mereka melakukan hal- hal yang positif.

Kedua, gadis remaja yang dibesarkan tanpa ayah, cenderung melakukan hubungan seks sebelum menikah.

Ketiga, sebagian hidup seorang anak remaja dan pemuda dipengaruhi oleh nilai yang ditanamkan oleh orang tua. Ayah sebagai pemimpin dalam keluarga seharusnya meneladani Yesus Kristus sebagai kepala rumah tangga.

Hai para ayah, apakah yang saudara tanamkan kepada putra dan putrimu ? Jika anak kita bertumbuh menjadi anak yang nakal, suka memberontak dan melakukan tindakan- tindakan kriminal, yang perlu dikoreksi bukan hanya mereka, melainkan kita-lah sebagai orang tua.

Apakah kita sudah menjadi figur yang baik baik bagi putra dan putri kita? Di tengah rasa frustasi mengurus anak- anak yang sepertinya tidak mau berubah, dan kita merasa gagal menjadi orang tua,kiranya tuntutan Roh Kudus membuka mata rohani kita untuk menjadikan kita bukan hanya menjadi orang tua yang berteori, tetapi dimampukan menjadi teladan hidup yang baik.



Jumat, 20 September 2013

Apa Yang Ditabur Itu Yang Dituai

Galatia 6 : 1 - 10

(1) Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.(2) Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.(3) Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri.(4) Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.
(5) Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri.(6) Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu.(7) Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.(8) Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.(9) Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.(10) Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Santapan rohani hari ini :

Sudah saudara menyaksikan cuplikan film Thailand yang berjudul “ Giving is the Best Communication? Film ini mengisahkan seorang anak laki- laki yang melakukan pencurian makanan dan ketika ketahuan sang pemilik tentu makanan itu di minta kembali.

Namun di tengah kemarahan si pemilik makanan, datanglah seorang bapak tua sang penjual mie dan menanyakan kepada si anak laki- laki tersebut, apakah ibunya sakit dan dibalas dengan anggukan. Maka sang bapak tua penual mie tersebut membayarkan makanan kepada si pemilik toko dan juga sembari menyerahkan 2 paket makanan dan minuman lain yang diterima dengan penuh keharuan.

Singkat cerita 30 tahun kemudian, sang penjual mie yang murah hati terkena serangan jantung yang menyebabkan ia koma dan menjalani perawatan yang tidak murah, sekitar 700 ribu bath. Sang putri penjual mie sangat kebingungan dan akhirnya memutuskan untuk menjual rumahnya.

Ketika terjaga dari keletihan menjaga ayahnya di rumah sakit, sang putri penjual mie mendapatkan secarik kertas yang bertuliskan semua biaya pengobatan ayahnya menjadi 0 bath, karena sudah dilunasi oleh seseorang. Siapakah dia?

Dialah Dr. Prajak Arunthong, anak laki – laki yang pernah ditolong dan diberikan makanan ketika sang dokter ketahuan mencuri makanan. Peristiwa 30 tahun yang lalu, menorehkan suatu  tuaian yang manis bagi bapak tua penjual mie di masa tuanya yang sakit- sakitan dan miskin.  Demikian bagi putri sang penjual mie, dia mengenang kembali saat diperintahkan memberikan sebungkus sop kepada Dr, Prajak.

Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Kita harus mensyukuri ketergantungan hukum-hukum alam yang ditetapkan si Pencipta. Hukum alam akan menjadi satu keuntungan besar bagi kita yang mengenal dan menghargainya, sebaliknya pelanggaran akan menerima konsekuensinya.

Orang yang mengabaikan standar Allah dan melayani keinginan dosa akan mengalami kehancuran. Tetapi orang yang mengikuti  tuntunan Roh Kudus akan mengalami berkat hidup yang kekal.

Apakah yang tengah saudara tabur saat ini?


Kamis, 19 September 2013

Memadamkan Ketidakpuasan

II Samuel 20: 1 - 26
(1) Kebetulan ada di sana seorang dursila, bernama Seba bin Bikri, orang Benyamin. Ia meniup sangkakala serta berkata: "Kita tidak memperoleh bagian dari pada Daud. Kita tidak memperoleh warisan dari anak Isai itu. Masing-masing ke kemahnya, hai orang Israel!"(2) Lalu semua orang Israel itu meninggalkan Daud dan mengikuti Seba bin Bikri, sedangkan orang-orang Yehuda tetap berpaut kepada raja mereka, mengikutinya dari sungai Yordan sampai Yerusalem.(3) Sampailah Daud ke istananya di Yerusalem, lalu raja mengambil kesepuluh gundik yang ditinggalkannya untuk menunggui istana, kemudian dimasukkannya mereka dalam sebuah rumah di bawah penjagaan. Ia memelihara mereka, tetapi tidak dihampirinya. Mereka tetap terasing seperti janda sampai hari mati mereka.(4) Berkatalah raja kepada Amasa: "Kerahkanlah bagiku orang-orang Yehuda dalam tiga hari, kemudian menghadaplah lagi ke mari!"(5) Lalu pergilah Amasa mengerahkan orang Yehuda, tetapi ia menunda-nunda tugas itu sampai melewati waktu yang ditetapkan raja baginya.(6) Lalu berkatalah Daud kepada Abisai: "Sekarang Seba bin Bikri lebih berbahaya bagi kita dari pada Absalom; jadi engkau, bawalah orang-orang tuanmu ini dan kejarlah dia, supaya jangan ia mencapai kota yang berkubu, dan dengan demikian ia luput dari pada kita."(7) Lalu Yoab, orang Kreti dan orang Pleti dan semua pahlawan keluar menyusul dia. Mereka keluar dari Yerusalem untuk mengejar Seba bin Bikri.(8) Ketika mereka sampai ke batu besar yang di Gibeon, maka Amasa sudah tiba di sana lebih dahulu dari pada mereka. Adapun Yoab mengenakan pakaian perang dan di luarnya ada ikat pinggang dengan pedang bersarung terpaut pada pinggangnya. Ketika ia tampil ke muka terjatuhlah pedang itu.9) Berkatalah Yoab kepada Amasa: "Engkau baik-baik, saudaraku?" Sementara itu tangan kanan Yoab memegang janggut Amasa untuk mencium dia.(10) Amasa tidak awas terhadap pedang yang ada di tangan Yoab itu; Yoab menikam pedang itu ke perutnya, sehingga isi perutnya tertumpah ke tanah. Tidak usah dia ditikamnya dua kali, sebab ia sudah mati. Lalu Yoab dan Abisai, adiknya, terus mengejar Seba bin Bikri.(11) Dan seorang dari orang-orang Yoab tinggal berdiri di dekat mayat itu, sambil berkata: "Siapa yang suka kepada Yoab dan siapa yang memihak kepada Daud, baiklah mengikuti Yoab!"(12) Dalam pada itu Amasa terguling mati dalam darahnya di tengah-tengah jalan raya. Ketika orang itu melihat, bahwa seluruh rakyat berdiri menonton, maka disingkirkannya mayat Amasa dari jalan raya ke padang, lalu dihamparkannya kain di atasnya, karena dilihatnya, bahwa setiap orang yang datang ke sana berdiri menonton.(13) Setelah dijauhkannya mayat itu dari jalan raya, maka semua orang itu berjalan terus mengikuti Yoab untuk mengejar Seba bin Bikri.14) Seba telah melintasi daerah semua suku Israel menuju Abel-Bet-Maakha. Dan semua orang Bikri telah berkumpul dan mengikuti dia.(15) Tetapi sampailah orang-orang Yoab, lalu mengepung dia di Abel-Bet-Maakha; mereka menimbun tanah menjadi tembok terhadap kota ini dan tembok ini merapat sampai ke tembok luar sedang seluruh rakyat yang bersama-sama dengan Yoab menggali tembok kota itu untuk meruntuhkannya.(16) Lalu berserulah seorang perempuan bijaksana dari kota itu: "Dengar! Dengar! Katakanlah kepada Yoab: Mendekatlah ke mari, supaya aku berbicara dengan engkau."(17) Maka mendekatlah Yoab kepada perempuan itu. Bertanyalah perempuan itu: "Engkaukah Yoab?" Jawabnya: "Benar!" Lalu berkatalah perempuan itu kepadanya: "Dengarkanlah perkataan hambamu ini!" Jawabnya: "Baik!"(18) Kemudian berkatalah perempuan itu: "Dahulu biasa orang berkata begini: Baiklah orang minta petunjuk di Abel dan di Dan, apakah sudah dihapuskan(19) apa yang telah ditetapkan oleh orang-orang yang setia di Israel! Tetapi engkau ini berikhtiar membinasakan suatu kota, apalagi suatu kota induk di Israel. Mengapa engkau hendak menelan habis milik pusaka TUHAN?"(20) Lalu Yoab menjawab: "Jauhlah, jauhlah dari padaku untuk menelan dan memusnahkan!(21) Bukanlah begitu halnya. Tetapi seorang dari pegunungan Efraim, yang bernama Seba bin Bikri, telah menggerakkan tangannya melawan raja Daud; serahkanlah dia seorang diri, maka aku akan undur dari kota ini." Lalu berkatalah perempuan itu kepada Yoab: "Baik, kepalanya akan dilemparkan kepadamu dari belakang tembok ini."(22) Kemudian masuklah pula perempuan itu dan berbicara kepada seluruh rakyat dengan bijaksana; sesudah itu mereka memenggal kepala Seba bin Bikri dan melemparkannya kepada Yoab. Yoab meniup sangkakala, lalu berserak-seraklah mereka meninggalkan kota itu, masing-masing ke tempatnya. Maka pulanglah Yoab ke Yerusalem kepada raja.(23) Yoab menjadi kepala atas segenap tentara Israel, dan Benaya bin Yoyada menjadi kepala atas orang Kreti dan orang Pleti.(24) Adoram menjadi kepala orang rodi dan Yosafat bin Ahilud menjadi bendahara negara.(25) Seya menjadi panitera negara; Zadok dan Abyatar menjadi imam.(26) Juga Ira, orang Yair itu menjadi imam pada Daud.

Santapan rohani hari ini :

Kisah ini menceritakan ketidakpuasan orang Israel terhadap Raja Daud , akibat hasutan atau provokasi Seba. Namun demikian orang Yehuda masih mau setia mengikuti Daud dari sungai Yordan sampai Yerusalem.

Melihat gelagat yang tidak baik ini, Daud segera mengutus Abisai. Yoab yang merupakan pengawal dari Raja Daud bertindak lebih cepat untuk mengejar Seba dan membunuh Amasa, Sang Panglima. Banyak hal yang melatarbelakangi pembunuhan itu, dan salah satunya ketidakpuasan Yaob atas keputusan Rja Daud mengangkat Amasa menjadi panglima.

Seba pun akhirnya mati meski bukan di tangan Yoab. Ketidakpuasan yang positif mendorong kita kea rah kemajuan. Namun ketidakpuasan negatif  dapat membuat kita tidak setia dan memandang orang lain sebagai target yang harus dihabisi.

Ketidakpuasan merupakan bibit yang berbahaya, yang dapat menimbulkan konflik dengan orang lain.

Bisakah kita menghalangi ketidakpuasan muncul dalam hati ? Tidak, karena benih dosa yang dipupuk akan menghasilkan perbuatan dosa yang lain. Namun kita harus berusaha keras memadamkannya. Bagaimana caranya?


Bersyukurlah dan cukupkan dengan apa yang sudah Tuhan berikan !

Rabu, 18 September 2013

First Thing First

Lukas 10 : 38- 42

(38) Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya(39) Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya,(40) sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku."(41) Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,(42) tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."

Santapan rohani hari ini :

Apakah saudara pernah mengalami persaingan dengan saudara kandung sendiri untuk sekedar mendapat perhatian lebih dari orang tua? Sering kali kompetisi terjadi di kalangan saudara dengan harapan yang lebih menonjol akan mendapat lebih.

Demikian yang terjadi pada kisah Maria dan Marta ketika Yesus berada di rumah mereka. Keduanya sama- sama menyambut Yesus, namun dengan cara yang berbeda. Marta diibaratkan seorang perempuan yang senang kesibukan, senang menjamu tamu istimewanya tersebut dengan hal yang bersifat domestik.

Sedang Maria lebih memfokuskan diri pada hal yang terpenting dalam hidupnya, yaitu mendengarkan Yesus bersabda. Sadar atau tidak, apa yang dilakukan Maria lebih mendatangkan pujian dari pada yang dilakukan Marta.

Apa yang dilakukan Marta sesungguhnya adalah sebuah kebaikan, tetapi apa yang dilakukan oleh Maria adalah hal yang benar.

Jadi salahkah yang dilakukan Marta ? Tentu tidak. Dia hanya perlu belajar prioritas. Pekerjaan memang hal yang penting, tetapi mendengarkan firman Tuhan adalah yang terpenting.


Dahulukan hal yang utama seperti yang diteladankan oleh Maria. Bagaimana dengan pilihan saudara ?

Selasa, 17 September 2013

T E L A D A N

Titus 2 : 1- 10

(1) Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat:(2) Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan.(3) Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik(4) dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya,(5) hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang.(6) Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal(7) dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu,(8) sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.(9) Hamba-hamba hendaklah taat kepada tuannya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, jangan membantah,(10) jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita.

Santapan rohani hari ini :

Sebagai warga Jakarta yang menetap selama lebih dari  empat puluh tahun, saya melihat ada pembenahan yang serius yang dilakukan oleh pimpinan daerah dan aparatnya. Rasanya saya ingin cerita langsung  kepada pemimpin daerah bagaimana sikap penyapu jalan yang seringkali menyapu sampah dan membuangnya sebagian ke tempat sampah, sebagian dimasukkan ke dalam got.

Entah apa yang dipikirkan mereka, mungkin sekadar kelihatan tempat tersebut sudah bersih atau karena kebiasaan buruk dan yang menganggap tugas itu hanya demikian saja.

Saya berharap teladan dari pemimpin daerah Jakarta dan pejabat yang lain dapat memberikan contoh yang baik dan benar kepada warganya. Seorang Paulus menasihatkan Titus untuk melakukan apa yang baik dan menguasai diri dalam berbagai hal sebelum melakukan bagi orang lain.

Titus harus belajar setia, menghidupkan apa yang diajarkannya sehingga menghindari kekeliruan dan kesaksian buruk dari umat Tuhan . Paulus mencegah Titus untuk membuka celah bagi orang lain untuk tidak menghormati Tuhan.

Teladan adalah suatu sikap kerendahan hati  membuat lawan tidak akan mencela  dan mempermuliakan Tuhan.  Kristus sudah memberi  teladannya bagi kita , sudahkan kita menjadi teladan dalam pelayanan kita ?

Apakah orang lain melihat bahwa iman kepada Kristus selaras dengan perbuatan kita yang memuliakan namanya? Jika itu belum terjadi, bersediakan saudara untuk dikoreksi oleh Tuhan?


Senin, 16 September 2013

Membagi Berkat

Amsal 11: 24 - 31
(24) Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. (25) Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.(26) Siapa menahan gandum, ia dikutuki orang, tetapi berkat turun di atas kepala orang yang menjual gandum.(27) Siapa mengejar kebaikan, berusaha untuk dikenan orang, tetapi siapa mengejar kejahatan akan ditimpa kejahatan.(28) Siapa mempercayakan diri kepada kekayaannya akan jatuh; tetapi orang benar akan tumbuh seperti daun muda.(29) Siapa yang mengacaukan rumah tangganya akan menangkap angin; orang bodoh akan menjadi budak orang bijak.(30) Hasil orang benar adalah pohon kehidupan, dan siapa bijak, mengambil hati orang.(31) Kalau orang benar menerima balasan di atas bumi, lebih-lebih orang fasik dan orang berdosa!

Santapan rohani hari ini :

Di tengah masa krisis moneter yang terjadi di seluruh dunia, banyak orang yang begitu resah dengan kehidupan yang akan datang. Harga - harga untuk kebutuhan hidup yang semakin naik, sehingga banyak orang memilih untuk lebih banyak menyimpan untuk diri sendiri daripada memberi kepada orang lain.

Melalui kitab Amsal, kita diingatkan bahwa menyebar harta (baca : berbagi ) tidak akan membuat seseorang menjadi miskin, tetapi malah bertambah kaya. Sebaliknya bagi yang terlalu berhemat, justru semakin terasa kekurangan.

Prinsip memberi dan menahan berkat menghasilkan hasil yang bertolak belakang, yang satu mengajarkan kita untuk percaya kepada Allah dan yang lain menggantungkan hidupnya pada apa yang dimilikinya.

Sebagai Kristen sejati, kita dipanggil menjadi penyalur berkat, bukan menimbun dan menyimpan sendiri hal yang kita anggap milik dan hasil jerih payah kita. Dengan member sesungguhnya kita mendapatkan lebih, dengan menahan berkat justru akan kehilangan.

Mari kita belajar memberi. Di balik berkat yang kita terima sesungguhnya ada bagian sesama yang menjadi tanggung jawab kita.

Sudahkah saudara member pada hari ini ?


Minggu, 15 September 2013

Memberi Karena Percaya Kepada Allah

Amsal 19: 11 - 17

(11) Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.(12) Kemarahan raja adalah seperti raung singa muda, tetapi kebaikannya seperti embun yang turun ke atas rumput.(13) Anak bebal adalah bencana bagi ayahnya, dan pertengkaran seorang isteri adalah seperti tiris yang tidak henti-hentinya menitik.(14) Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang, tetapi isteri yang berakal budi adalah karunia TUHAN.(15) Kemalasan mendatangkan tidur nyenyak, dan orang yang lamban akan menderita lapar.(16) Siapa berpegang pada perintah, memelihara nyawanya, tetapi siapa menghina firman, akan mati.(17) Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.(17) Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.
Santapan rohani hari ini :

Apakah yang saudara harapkan dari suatu perbuatan baik yang tengah saudara lakukan ? Balas budi , atau berharap suatu saat   dalam keadaan yang mendesak kita mendapat kebaikan yang sama ?

Kita mungkin sering mendengar  ada orang-orang yang mengucapkan demikian ketika mereka dibantu,”Tuhan kiranya membalas kebaikan saudara berlipat kali ganda.”. Kalimat ini perlu kita renungkan kembali, benarkah Tuhan akan membalas kebaikan itu ?

Salah satu pengajaran dari kitab Amsal adalah menaruh kepercayaan kita sepenuhnya kepada Allah.  Ketika kita harus berbagi di saat kondisi kita mungkin sedang pas- pas –an, namun kita dimampukan member dengan sukacita. Kita dimampukan untuk memberi untuk waktu, tenaga, uang kepada orang yang membutuhkan karena percaya bahwa Allah akan senantiasa memelihara kehidupan kita.

Kita tidak akan pernah kekurangan karena Dia membalas segala perbuatan baik yang kita lakukan.

Namun Alkitab tidak mengajarkan jika motivasi kita member hanya karena hanya untuk menagih berkat dari Tuhan. Kita tidak berhak mengatur Tuhan untuk kepentingan diri kita sendiri. Setiap tindakan membantu orang yang lemah dan dilakukan di dalam iman, Tuhan akan menunjukkan bahwa Dia Allah yang layak untuk dipercaya.

Dia akan membalas tindakan iman itu karena itu berarti kita percaya kepadanya bahwa Ia memelihara kehidupan kita dengan sempurna.