Minggu, 31 Maret 2013

Makna Kebangkitan Yesus


I Korintus 15: 12 - 23

(12) Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati?(13) Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan.(14) Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.(15) Lebih dari pada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus--padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, kalau andaikata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan.(16) Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan.(17) Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu..(18) Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus.(19) Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.(20) Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.(21) Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia.(22) Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. (23) Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya.

Santapan rohani hari ini :
Sampai hari ini masih ada saja kelompok orang atau ajaran yang mengatakan bahwa Yesus Kristus tidak bangkit dari kematian. Dengan berbagi cerita rekaan, mereka pada intinya adalah orang- orang yang percaya kepada kesia- sia-an mempercayai Tuhan yang bangkit.

Memang Alkitab tidak menuliskan peristiwa bangkitnya Yesus, seperti ketika para murid dan Maria melihat Lazarus dibangkitkan. Namun waktu surat Korintus ini ditulis, banyak para saksi yang dengan berani menyatakan bahwa mereka mengalami perjumpaan dengan Kristus yang sudah bangkit, termasuk Rasul Paulus. Tujuanya adalah agar umat percaya dan iman pembacanya diteguhkan.

Ada kalimat paradox yang diucapkan oleh Yesus mengenai hal ini, yaitu :
Pertama, ayat 14 menyatakan bahwa percuma saja pemberitaan Paulus tentang Kristus dan percuma juga kita yang percaya akan Dia.Bahkan Paulus menyatakan bahwa jika Kristus tidak bangkit, maka dia tidak lebih dari seorang pendusta terhadap Allah. Kebangkitan Kristus berarti kebangkitan orang percaya.

Kedua, ayat 17, sekali lagi Paulus menegaskan kepercumaan kita percaya pada Kristus jika Dia tidak dibangkitkan, dan nyatanya kita masih hidup dalam dosa. Maka dengan sendirinya pengharapan akan Dia yang menghapus dosa- dosa kita akan mubazir. Maka kita yang percaya kepada Kristus adalah orang yang paling malang dari segala manusia.  Kebangkitan Kristus berarti pembebasan kita atas kuasa dosa.

Kebangkitan Kristus adalah pembuka jalan bagi kita yang percaya, karena kelak ketika kita meninggalkan dunia ini, kita akan mengalami kebangkitan untuk hidup selamanya bersama Dia kelak. Dengan demikian,kebangkitan Kristus menjadi dasar bagi jemaat untuk mengelola masa kini demi menyongsong masa depan.

Oleh karena itu, perjuangan iman dalam Kristus harus diisi dengan penuh makna. Memahami dan mengalami Kristus yang bangkit, berarti menjadikan hidup kita berarti., Kita akan mengalami sukacita, karena kebangkitan Kristus adalah jaminan bahwa tidak percuma kita beriman kepadaNya.

Sudahkan kita mengalami kuasa kebangkitanNya?


Sabtu, 30 Maret 2013

Makna Sabtu Sunyi



(57) Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga.(58) Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya.(59) Dan Yusufpun mengambil mayat itu, mengapaninya dengan kain lenan yang putih bersih,(60) lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru, yang digalinya di dalam bukit batu, dan sesudah menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu, pergilah ia.(61) Tetapi Maria Magdalena dan Maria yang lain tinggal di situ duduk di depan kubur itu.(62) Keesokan harinya, yaitu sesudah hari persiapan, datanglah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bersama-sama menghadap Pilatus,(63) dan mereka berkata: "Tuan, kami ingat, bahwa si penyesat itu sewaktu hidup-Nya berkata: Sesudah tiga hari Aku akan bangkit.(64) Karena itu perintahkanlah untuk menjaga kubur itu sampai hari yang ketiga; jikalau tidak, murid-murid-Nya mungkin datang untuk mencuri Dia, lalu mengatakan kepada rakyat: Ia telah bangkit dari antara orang mati, sehingga penyesatan yang terakhir akan lebih buruk akibatnya dari pada yang pertama."(65) Kata Pilatus kepada mereka: "Ini penjaga-penjaga bagimu, pergi dan jagalah kubur itu sebaik-baiknya."(66) Maka pergilah mereka dan dengan bantuan penjaga-penjaga itu mereka memeterai kubur itu dan menjaganya.


Santapan rohani hari ini :

Sabtu sunyi merupakan momen yang seharusnya untuk berjaga dan berdoa, bukan untuk melakukan kesibukan yang lain atau seperti ketakutan para murid yang ditinggal oleh Yesus. Sekali pun tidak banyak dari umat Tuhan yang menghayati makna Sabtu Sunyi, namun untuk kita yang mampu mengenangnya sebagai hari di mana seharusnya merenungkan peristiwa kematian Yesus.

Sabtu sunyi ada sebagai bagian dari peristiwa yang sekilas diceritakan oleh Alkitab di mana Allah bekerja untuk membuktikan bahwa Yesus pernah ada di dalam alam kubur sebagai kodrati manusiawinya. Pada saat inilah Yesus berjuang melawan kematian, melawan kuasa kegelapan yang sedang membelenggu manusia berdosa. Saat di mana Yesus berperang di dalam kegelapan kubur untuk mengambil kunci maut, dan dan mematahkan sengatnya.

Masih adakah alasan bagi kita untuk berlaku seperti para murid –murid perempuan Tuhan Yesus, Maria Magdalena dan Maria lainnya yang bermuram durga duduk dekat makam Yesus? Juga termasuk murid- murid lelaki lainnya ?

Kiranya kita menjadi murid- murid Yesus yang percaya bahwa Ia adalah Allah yang menepati janjiNya. Esok hari Ia akan bangkit, supaya kita akan mempunyai kehidupan pada hari esok.
Berbahagialah buat setiap kita yang percaya dan menantikan peringatan hari kebangkitanNya dengan berjaga dan berdoa senantiasa. Amin


Jumat, 29 Maret 2013

Dampak Kematian Yesus



Matius 27: 45 – 66

(45) Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga.(46) Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?(47) Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: "Ia memanggil Elia."(48) Dan segeralah datang seorang dari mereka; ia mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam, lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum.(49) Tetapi orang-orang lain berkata: "Jangan, baiklah kita lihat, apakah Elia datang untuk menyelamatkan Dia."(50) Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya.(50) Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya.(51) Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah,(52) dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit.(53) Dan sesudah kebangkitan Yesus, merekapun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang.(54) Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: "Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah."(55) Dan ada di situ banyak perempuan yang melihat dari jauh, yaitu perempuan-perempuan yang mengikuti Yesus dari Galilea untuk melayani Dia.(56) Di antara mereka terdapat Maria Magdalena, dan Maria ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu anak-anak Zebedeus.(57) Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga.(58) Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya.(59) Dan Yusufpun mengambil mayat itu, mengapaninya dengan kain lenan yang putih bersih,(60) lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru, yang digalinya di dalam bukit batu, dan sesudah menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu, pergilah ia.(61) Tetapi Maria Magdalena dan Maria yang lain tinggal di situ duduk di depan kubur itu.(62) Keesokan harinya, yaitu sesudah hari persiapan, datanglah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bersama-sama menghadap Pilatus,(63) dan mereka berkata: "Tuan, kami ingat, bahwa si penyesat itu sewaktu hidup-Nya berkata: Sesudah tiga hari Aku akan bangkit.(64) Karena itu perintahkanlah untuk menjaga kubur itu sampai hari yang ketiga; jikalau tidak, murid-murid-Nya mungkin datang untuk mencuri Dia, lalu mengatakan kepada rakyat: Ia telah bangkit dari antara orang mati, sehingga penyesatan yang terakhir akan lebih buruk akibatnya dari pada yang pertama."(65) Kata Pilatus kepada mereka: "Ini penjaga-penjaga bagimu, pergi dan jagalah kubur itu sebaik-baiknya."(66) Maka pergilah mereka dan dengan bantuan penjaga-penjaga itu mereka memeterai kubur itu dan menjaganya.


Santapan rohani hari ini :

Jumat Agung ini kembali kita diingatkan akan kesengsaraan dan kematian Yesus. Kiranya melalui peringatan ini kita terus mengingatkan ciinta kasihNya dan mengerti makna dan dampak dari kematianNya.

Puncak penderitaan Yesus adalah ketika ditinggal oleh Allah. Begitu dahsyatnya, sehingga alam pun ikut bergoncang dan langit menjadi gelap  selama 3 jam sebagai tanda kegelapan dosa seluruh dunia yang ditimpakan pada Yesus. Hal ini berarti bukan sekedar penderitaan jesmani dan batin, tetapi terutama rohani. Melalui peristiwa ini Yesus mengalami keterpisahan dari Allah Bapa.

Ketika Yesus mati sebagai orang yang berdosa, sesungguhnya tuntutan keadilan Allah kapada umat manusia sudah dibayar lunas. Tabir Bait Suci yang terbelah dua merupakan bukti dan dampak bahwa penghubung Allah dan manusia sudah dipulihkan. Demikian  halnya gempa bumi dan bukit batu terbelah, sebagai tanda hadirat Allah sedang bekerja dan melalui kematian Yesus, dosa dan maut telah dikalahkan. Dampak dari yang terakhir ini adalah kebangkitan awal orang-orang kusus dari kebangkitan akhir pada zaman akhir.

Bagaimana reaksi orang-orang yang melihat peristiwa itu? Alkitab mencatat bahwa semua fenomena tersebut menimbulkan pengakuan   iman dalam diri pemimpin pasukan dan anak buahnya bahwa Ia adalah Anak Allah. Juga beberapa perempuan yang mengiringi perjalananNya ke Bukit Tengkorak.

Yesus telah mati dan bangkit. Melaluinya dosa kita dihapuskan, persekutuan kita dengan Allah dipulihkan. Kita menjadi sahabat-sahabatNya, menjadi anak-anakNya, menjadi mitra Allah. Sepantasnya kita melayani Dia dari sekarang  sampai meraih surga kekal, bersamaNya selalu.

Terpujilah Kristus !

Kamis, 28 Maret 2013

Mesias Yang Anak Daud


Markus 12 : 35 - 37

(35) Pada suatu kali ketika Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berkata: "Bagaimana ahli-ahli Taurat dapat mengatakan, bahwa Mesias adalah anak Daud?(36) Daud sendiri oleh pimpinan Roh Kudus berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu.(37) Daud sendiri menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?" Orang banyak yang besar jumlahnya mendengarkan Dia dengan penuh minat.

Santapan rohani hari ini :

Banyak pemuka agama di zaman Yesus mempertanyakan asal- usul Yesus. Dalam kisah Alkitab kali ini mempertanyakan ke-Mesias-an Yesus dan apa hubungannya dengan Raja Daud. Mesias, yang artinya yang diurapi Allah. Dan Dia-lah Yesus, Anak Daud sekaligus tuan Daud. Bingung ?

Secara historis, Yesus adalah Anak Daud. Secara iman, Yesus adalah tuan dari Daud. Yesus adalah tuan atau Tuhan. Dalam pandangan Yahudi, Mesias yang dinantikan datang untuk mendirikan Kerajaan duniawi. Tetapi sesungguhnya Yesus datang untuk manusia, yaitu saudara dan saya, Ia datang untuk membawa kita kembali kepada Allah.

Yesus dalam segala pengajaranNya, senantiasa berupaya membawa manusia kepada Allah. Ia terus- menerus berupaya mengeluarkan pikiran manusia tentang ide Mesias dari bangsa Yahudi, yaitu Mesias yang layaknya seperti seorang hero atau kesatria yang mampu memimpin dan mengeluarkan mereka dari pembebasan bangsa Romawi.

Yesus berupaya untuk menanamkan dalam benak bangsa Yahudi sebuah pemahaman                                                         bahwa Mesias menjadi Hamba Allah adalah membawa kasih  kepada manusia, dan mengantar manusia kepada Allah.

Sampai saat ini masih banyak orang yang meragukan KeTuhanan Yesus. Untuk menerima Dia sebagai orang baik, masih banyak yang setuju. Untuk menerima Dia sebagai nabi, tidak terlalu banyak yang mempermasalahkan. Lalu, bagaimana penerimaan orang- orang atas Kemesiasan, Tuhan, Juru Selamat bagi dunia ini ?

Bagi saudara, siapakah Mesias itu ?

Imani-lah !

Rabu, 27 Maret 2013

Salib dan Hukuman


I Petrus 2 : 18 - 25

(18) Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis.(19) Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.(20) Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.(21) Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya(22) Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya.(23) Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.(24) Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.(25) Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.

Santapan rohani hari ini :

Banyak orang Kristen yang sampai saat ini tidak (sengaja ) membedakan antara salib dan hukuman. Misalnya, pengalaman seorang diaken yang diaken yang pernah mengatakan kepada saya bahwa dia terpaksa bercerai dengan istrinya karena memikul salib melayani Tuhan. Atau seorang anak muda Kristen yang mengatakan nilai ujiannya di sekolah jelek karena sibuk turut membantu melayani di gereja. Pernyataan pengalaman ini sebenarnya tidak tepat. Walaupun sama- sama berdampak penderitaan, hukuman jelas berbeda dengan salib. Hukuman adalah penderitaan karena seseorang bersalah, sedang salib adalah penderitaan yang dialami justru karena seseorang ingin hidup benar.

Bacaan ini hari ini berisi nasihat Petrus tentang kehidupan seorang hamba Tuhan. Siapa pun mereka, harus dapat membedakan penderitaan karena dosa dan karena perbuatan baik.

Penderitaan karena perbuatan baik adalah sebuah kasih karunia. Dasarnya adalah bahwa Kristus pun mnderita dengan cara dan dalam realitas yang sama. Mengalami kesusahaan fisik dan psikis karena pekerjaan Tuhan. Dia menderita bukan karena bersalah, tetapi karena Dia baik dan lurus perbuatannya serta perkataan. Ia tidak membalas ketika dicaci, diancam, ditendang, dicambuk, diludahi bahkan membiarkan diriNya mati. Dia-lah teladan salin, teladan dari anugerah Allah. SalibNya ditanggungkan menjadi penebusan atas dosa- dosa seluruh manusia.

Penderitaan tidak perlu dicari, ia bisa datangnn sendiri disepanjang kehidupan manusia. Namun bagaimana kita merespon penderitaan yang datang, Yang penting kita tahu, bukan karena kesalahan atau kebodohan kita sendiri, tetapi sepenuh hati kita meyakini, ada jalan Tuhan yang sedang kita lewati.

Apakah saudara saat ini merasa sedang dalam penderitaan? Renungkan, salibkah atau hukuman atas kesalahan /dosa sendiri-kah ?

Kiranya Allah di dalam Kristus mengaruniakan kekuatan kita untuk memikul salib.

Selasa, 26 Maret 2013

Pelayanan Profesi


Kisah Para Rasul 2 : 41 - 47

(41) Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.(42) Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.(43) Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda.(44) Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,(45) dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.(46) Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,(47) sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

Santapan rohani hari ini :

Jika saudara suka melihat acara Jakarta Lawyer Club, ada sosok pakar pidana senior yang sering terakhir dimintakan pendapatnya untuk merangkum atau merevisi pokok persoalan hukum yang diperdebatkan. Beliau adalah seorang Prof. J.E Sahetapi.

Saya mengenal beliau sebagai sosok yang memiliki integritas dan seorang yang takut akan Tuhan.Beliau pun dikenal sebagai orang yang berani untuk menyatakan kebenaran, namun tetap rendah hati.  Pernah suatu ketika dalam suatu seminar pelayanan, beliau menjadi salah seorang nara sumber . Sebagai panitia, saya termasuk orang yang menjemput beliau di Bandara Soekarno Hatta. Dari area penjemputan, beliau datang dengan menjinjing sebuah tas, entah apa isinya. Mungkin materi seminar. Dan karena terlihat begitu berat, maka salah seorang rekan laki-laki berinisiatif untuk mengambil alih untuk membawakan tas tersebut. Namun beliau menolak, dengan mengatakan itu merupakan bagian pelayanan seorang hamba Tuhan.

Dengan sikapnya itu, Prof. J.E Sahetapi itu telah menunjukkan kesaksiannya sebagai seorang pakar hukum pidana kristiani.

Kekristenan berkembang bukan hanya peran pendeta atau penginjil ternama, tetapi kesaksian dari penginjil anonym. Orang- orang yang dalam peran dan profesinya masing-masing telah memberikan kesaksian indah bagi masyarakat sekitar. Siapa pun dan apa pun pekerjaan kita, jika kita melakukan dengan iman dan meneladani Kristus, akan menjadi pelayanan yang efektif bagi orang yang mengenal kita.

Jemaat mula- mula adalah jemaat yang bertumbuh pesat, Ketekunan dalam pengajaran rasul-rasul dan hidup kebersamaan yang kuat sangat memberi npengaruh positif  bagi orang- orang luar. Mereka adalah saksi yang setia. Dan mereka pun disukai semua orang dan memberkati orang- orang di sekitar.

Apa pun profesi kita, mari jadikan hidup kita sebagai surat terbuka yang dibaca sesama. Kiranya Tuhan dimuliakan melalui hidup anak- anakNya.

Senin, 25 Maret 2013

Kriminalisasi Yesus


Matius  27 : 11 - 31

(11) Lalu Yesus dihadapkan kepada wali negeri. Dan wali negeri bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" Jawab Yesus: "Engkau sendiri mengatakannya."(12) Tetapi atas tuduhan yang diajukan imam-imam kepala dan tua-tua terhadap Dia, Ia tidak memberi jawab apapun.(13) Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?"(14) Tetapi Ia tidak menjawab suatu katapun, sehingga wali negeri itu sangat heran. (15) Telah menjadi kebiasaan bagi wali negeri untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu atas pilihan orang banyak.(16) Dan pada waktu itu ada dalam penjara seorang yang terkenal kejahatannya yang bernama Yesus Barabas.(17) Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: "Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?"(18) Ia memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki.(19) Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: "Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam."(20) Tetapi oleh hasutan imam-imam kepala dan tua-tua, orang banyak bertekad untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati.(21) Wali negeri menjawab dan berkata kepada mereka: "Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?" Kata mereka: "Barabas."(22) Kata Pilatus kepada mereka: "Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?" Mereka semua berseru: "Ia harus disalibkan!"(23) Katanya: "Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?" Namun mereka makin keras berteriak: "Ia harus disalibkan!"(24) Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: "Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!"(25) Dan seluruh rakyat itu menjawab: "Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!"(26) Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.(27) Kemudian serdadu-serdadu wali negeri membawa Yesus ke gedung pengadilan, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus.(28) Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya.(29) Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai Raja orang Yahudi!"(30) Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya.(31) Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian mereka membawa Dia ke luar untuk disalibkan.

Santapan rohani hari ini :

Di era berdirinya Komisi Pemberantasan Korupsi, kita sering mendengar kata kriminalisasi, bukan? Biasanya merupakan tuduhan palsu atas kejahatan atas seseorang sehingga pantas untuk dihukum penjara.

Lalu bagaimana jika Yesus yang dikriminalisasikan? Apa kesalahan Yesus sehingga harus dihukum mati ? Apakah tuduhan para pemuka agama terhadap Yesus dapat dibuktikan walaupun mereka telah banyak menggunakan saksi palsu? Jawabannya : tidak ada.

Hanya satu tuduhan yang sepertinya diakui Yesus, yaitu sebagai Mesias, Anak Allah, yang menyebabkan Dia disebut penghujat Allah. Bagaimana Pontius Pilatus menyikapi itu?
Dia tahu itu tidak menjadi dasar buat memvonis Yesus agar dijatuhi hukuman mati dan seharusnya Yesus bisa bebas. Dia tahu tuduhan- tuduhan itu semata-mata kedengkian dari para pemuka agama.

Mengapa Politus akhirnya menyerah pada tuntutan orang banyak? Karena dia tidak mempunyai nyali menghadapi orang banyak yang sudah dihasut oleh para pemuka agama. Popularitas dan reputasi menjadi taruhannya. Dan bisa juga merupakan ketakutan tersendiri dia akan terseret. Maka demi menyenangkan banyak orang, Politus abai terhadap hati nuraninya sendiri.

Bagaimana sikap Yesus menghadapi kriminalisasi diriNya?  Diam. Tidak membela diri, karena Dia tahu jalan kematianNya merupakan kehendak Allah.

Bagaimana jika sesuatu kejahatan dituduhkan kepada kita, sementara kita tidak melakukan itu ? Benih dosa dan hidup kedagingan kita memungkinkan kita untuk membalas bahkan dengan lebih kejam dari yang dilakukan oleh orang telah berbuat jahat kepada kita tersebut. Saat difitnah dan dituduhkan jahat karena iman kita, biarlah jalan salib dan melakukan kehendak Bapa menjadi bagian yang kita tempuh. Tidak perlu membela diri, karena ada Allah yang menjadi pembela. Syukur pada Allah.

Minggu, 24 Maret 2013

B O S A N !


Bilangan 11 : 1 - 9

(1) Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang nasib buruk mereka, dan ketika TUHAN mendengarnya bangkitlah murka-Nya, kemudian menyalalah api TUHAN di antara mereka dan merajalela di tepi tempat perkemahan.(2) Lalu berteriaklah bangsa itu kepada Musa, dan Musa berdoa kepada TUHAN; maka padamlah api itu.(3) Sebab itu orang menamai tempat itu Tabera, karena telah menyala api TUHAN di antara mereka.(4) Orang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israelpun menangislah pula serta berkata: "Siapakah yang akan memberi kita makan daging?(5) Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih.(6) Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat."(7) Adapun manna itu seperti ketumbar dan kelihatannya seperti damar bedolah.(8) Bangsa itu berlari kian ke mari untuk memungutnya, lalu menggilingnya dengan batu kilangan atau menumbuknya dalam lumpang. Mereka memasaknya dalam periuk dan membuatnya menjadi roti bundar; rasanya seperti rasa panganan yang digoreng.(9) Dan apabila embun turun di tempat perkemahan pada waktu malam, maka turunlah juga manna di situ.(10) Ketika Musa mendengar bangsa itu, yaitu orang-orang dari setiap kaum, menangis di depan pintu kemahnya, bangkitlah murka TUHAN dengan sangat, dan hal itu dipandang jahat oleh Musa. (11 Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: "Mengapa Kauperlakukan hamba-Mu ini dengan buruk dan mengapa aku tidak mendapat kasih karunia di mata-Mu, sehingga Engkau membebankan kepadaku tanggung jawab atas seluruh bangsa ini?

Santapan rohani hari ini :

Apakah saudara pernah mengalami rasa bosan ? Atau justru itu yang terjadi saat ini ? Bosan dengan kegiatan saudara saat ini, bosan dengan pasangan hidup, bosan dengan berita korupsi yang tidak ada habisnya, bosan dengan makanan yang itu- itu saja, bosan pergi ke gereja untuk mendengarkan kotbah, bosan membaca Alkitab, sampai pada bosan hidup dan menginginkan kematian.
Rasa bosan adalah musuh terbesar dari konsistensi hidup yang hadir secara setia di tengah dunia. Rasa bosan kerap kali muncul karena ketidakmampuan kita untuk melihat bahwa sejarah hidup bukan hanya berisi rentetan detik yang itu- itu saja, namun juga curahan kesempatan dari Allah bagi kita. Rasa bosan bukanlah keluh kesah mengenai segala sesuatu yang tidak kita miliki, melainkan mengenai sesuatu yang telah kita miliki tetapi sudah tidak menarik kita lagi.
Demikian yang terjadi pada umat Tuhan ketika mereka menempuh perjalanan yang panjang di padang gurun. Mereka berkeluh kesah dan menganggap remeh pertolongan Allah yang senantiasa mencukupi kebutuhan mereka sepanjang exodus ke Tanah Perjanjian. Mereka ingat akan  jenis makanan yang dimakan saat mereka menjadi budak di Mesir, termasuk bagaimana cara Allah menyediakan makanan bagi mereka.
Ayat 6 menyingkap kebosanan mereka atas apa yang Allah sudah berikan. Allah sudah memberkati, tetapi mereka ingin sesuatu yang lebih menarik. Rutinitas adalah batu ujian terhadap karakter, dimana kegiatan sehari- hari dan tugas yang sama tidak lagi membuat andrenalin kita terpacu.
Rutinitas merupakan cara Allah untuk menempatkan kita di saat-saat perenungan. Kebosanan merupakan kesempatan bagi kita untuk mengalami hadirat Allah. Di dalamnya Allah tengah bekerja untuk menanamkan karakternya di dalam diri kita.  Ketika kita berhasil melampauinya, maka kita akan menyadari, bahwa berkat Tuhan ditemukan dalam setiap tugas.
Bayangkan, jika perjalanan hidup yang panjang diisi dengan kegembiraan mencari  hal yang bermakna yang Tuhan berikan dan memanfaatkannya untuk kebaikan dunia ini. Maka kita akan sampai pada titik kesadan bahwa we are not journeying toward our home, tetapi journey is our home. Atau seperti yang dikatakan oleh Ibu Teresa,” The whole way to heaven is heaven itself”. Dan sesungguhnya, Yesus-lah sumber sukacita itu, karena di dalam Dia kita memiliki pengharapan baik saat ini , maupun di masa akan datang. Amin

Sabtu, 23 Maret 2013

Perspektif Ilahi Vs Perspektif Duniawi


Lukas 14 : 1 - 11

(1) Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.(2) Tiba-tiba datanglah seorang yang sakit busung air berdiri di hadapan-Nya.(3) Lalu Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, kata-Nya: "Diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?"(4) Mereka itu diam semuanya. Lalu Ia memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya dan menyuruhnya pergi.(5) Kemudian Ia berkata kepada mereka: "Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?"(6) Mereka tidak sanggup membantah-Nya.(7) Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:(8) Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu,(9) supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah.(10) Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain.(11) Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Santapan rohani hari ini :

Ketika Yesus melakukan penyembuhan di hari Sabat, banyak para pemimpin agama dan Farisi yang menyaksikannya. Dan mereka keberatan, sehingga menegur dan mempertanyakan Yesus mengapa melakukan itu di hari Sabat. Yesus membawa perspektif mereka kepada esensi atau pokok dari Sabat. Yesus melihat upaya pelarangan para pemimpin Yahudi yang melakukan sesuatu di hari sabat termasuk menyembuhkan orang sakit  adalah semata karena demi kepentingan mereka sendiri.

Tindakan Tuhan Yesus menyembuhkan pada hari Sabat adalah perwujudan belas kasih Allah. Betapa berbedanya perspektif para pemimpin agama tersebut dengan  perspektif Ilahi dari Yesus.

Selanjutnya komentar Yesus mengenai posisi duduk yang ingin terdepan dan di tempat terhormat dalam sebuah pesta, menggambarkan betapa pentingnya sikap mendahului dan memikirkan orang lain. Diperlukan kerendahan untuk melakukan itu. Mereka yang ingin diutamakan dan ingin mendapat tempat terdepan justru seringkali dipermalukan .

Perspektif dunia “apa yang aku dapatkan” akan menjadikan kita jahat dan munafik. Jahat karena kita akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Munafik karena kita bisa memanipulasi hal-hal yang yang rohani untuk kepentingan kita.

Sebaliknya, perspektif Ilahi adalah upaya menjadikan “Dia semakin bertambah, dan aku yang makin berkurang, Dia makin terdepan, dan aku makin yang paling di belakang”.Ketika kita lebih mengutamakan memberi kepada orang lain, hidup kita akan jauh lebih berbahagia. Tuhan pun akan berbahagia, melihat anak-anakNya mempraktikkan belas kasih Allah kepada sesamanya.

Ketika ajaran dunia di mana semua orang ingin menjadi nomor satu, menjadi kompetitor, menjadi yang terdepan, bersediakah kita menjadi pengikut Tuhan yang rendah hati , tetapi tetap berani bertindak benar meski dihambat lingkungan?

Jumat, 22 Maret 2013

Pengharapan Yang Hidup


                                                                                                                                                                  
I Petrus 1 : 3 - 9

(3) Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, (4) untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.(5) Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.(6) Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.(7) Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.(8) Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan,(9) karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.

Santapan rohani hari ini :

Dosa menyebabkan hidup terasa sulit, tak terkecuali bagi orang yang sudah beriman kepada Yesus Kristus. Tatanan hidup menjadi demikian kacau dan menyebabkan penderitaan pada semua manusia. Tak ada satu ayat pun dalam Alkitab yang menjanjikan bahwa kita akan bebas dari kesulitan karena kita pengikut Kristus.

Semua itu tidak lepas karena kita manusia yang lemah dan terbatas. Oleh karena itu kesadaran bahwa Allah menyediakan kebutuhan kita dapat membuat kita hidup dengan berpengharapan. Hal ini akan memberi ketenangan dan memampukan kita hidup dengan kekuatan batiniah, karena kita tahu suatu saat nanti keadaan kita akan berubah secara seketika dari keadaan yang sekarang.

Jika kita hidup dalam kelemahan dosa atau kedagingan, atau merasa diri tidak berarti percayalah akan apa yang Allah sudah sediakan bagi kita. Bersukacitalah untuk segala hal , termasuk penderitaan yang kita alami. Karena semua itu hanya bersifat sementara, semuanya akan berlalu daripada yang kita duga.

Jika kita percaya Kristus, maka pengharapan itu akan dihidupkan bersama- sama dengan kebangkitanNya dari alam maut. Kemuliaan Allah di tempat maha tinggi sudah disediakan bagi kita. Sekali lagi, hanya percaya saja…

Kamis, 21 Maret 2013

Kekuatan Sebuah Pengampunan


Kolose 3 : 1 - 17

(1) Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.(2) Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.(3) Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.(4) Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.(5) Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,(6) semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka).(7) Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya.(8) Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.(9) Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,(10) dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;(11) dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.(12) Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.(13) Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.(14) Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.(15) Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.(16) Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.(17) Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

 Santapan rohani hari ini :

Masih ingatkah kita peristiwa mutilasi seorang suami terhadap suaminya sendiri? Dan yang lebih mengherankan, dia melakukanya sendiri dan meletakkan potongan tubuh suaminya di bis Mayasari Bhakti dan sengaja dibiarkan ditinggal di dalam bus itu. Oleh sang kondektur, temuan potongan tersebut dikira daging sapi yang tertinggal, sampai akhirnya itu diketahui adalah potongan tubuh manusia.
Polisi pun berusaha keras untuk menyingkap pembunuhan sadis tersebut. Akhirnya diketahui sang pelaku adalah istri dari korban. Ketika ditanya mengapa ia sampai hati melakukan itu, adalah sakit hati dan dendam, karena sang suami akan menceraikannya dan akan menikah lagi dengan selingkuhannya. Wanita ini bukan hanya tidak sudi diceraikan, tetapi sakit hati karena beberapa kali almarhum suaminya menyakiti hatinya dengan menjalin hubungan dengan wanita lain. Baginya sulit untuk mengampuni pria yang pernah hidup bersamanya selama bertahun- tahun, tetapi sudah begitu seringkali menyakiti hatinya.
Sekian lama memupuk kemarahan dan dendam, ketidakrelaan untuk memberi pengampunan, ternyata dapat berakibat fatal dalam kehidupan. Alkitab mengatakan bahwa pengampunan sejati diberikan oleh Tuhan Yesus. Ia memberikannya tanpa batas. Oleh pengampunanNya, kita dibebaskan dari dosa, baik dosa masa lalu, sekarang dan yang akan datang.
Bacaan kita hari juga mengajak kita untuk sabar dan suka mengampuni seorang terhadap yang lain, sama seperti Tuhan mengampuni kita. Itulah salah satu ciri manusia baru. Dan sebagai manusia baru kita terus-menerus diperbaharui sehingga serupa dengan Dia. Kita perlu belajar mengedepankan pengampunan, bahkan jika kita tidak berada dalam posisi salah sekali pun.
Tidak mudah memang ! Tetapi mari kita belajar mempraktikan pengampunan. Mengampuni seperti Tuhan Yesus,bahkan untuk orang menurut ukuran dunia tidak pantas diampuni. Bagaimana dengan mereka yang belum mengenal jalan Tuhan?  Perkenalkan jalan pendamaian Allah kepada mereka.
Go !


Rabu, 20 Maret 2013

Hamba Yang Setia Atau Hamba Yang Jahat


Matius 24 : 37 - 51


Nasihat supaya berjaga-jaga
37"Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.38Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera,39dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.40Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan;41kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.42Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.43Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.44Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga."

Perumpamaan tentang hamba yang setia dan hamba yang jahat
45"Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya?46Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.47Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya.48Akan tetapi apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya:49Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk,50maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya,51dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi."


Santapan rohani hari ini :

Kisah kedatangangan Anak Manusia atau peristiwa akhir zaman tidak dapat dipisahkan dengan penghakiman. Dengan menggunakan kisah Nuh, Yesus hendak mengatakan bahwa hari itu akan datang secara tiba- tiba.
Ada beberapa hal yang pelu dicatat dalam kedatangan hari Tuhan tersebut :
Ayat 40 - 42  : penghakiman memecahkan rutinitas pekerjaan kita sehari- hari. Penghakiman bisa datang sewaktu-waktu, kapan saja, entah kita sedang bekerja atau tidak bekerja. Teman sekerja yang setiap hari bertemu, secara tiba- tiba dapat dipisahkan oleh penghakiman Ilahi.
Ayat 43 -44 : hari penghakiman diibaratkan kedatangan pencuri yang membongkar rumah. Tentu saatnya tidak kita duga, dengan tidak lazim, ketika si pemilik rumah lengah atau tengah beristirahat, atau pada saat sang pemilik rumah berpergian.

Melalui contoh-contoh itu Yesus mengajarkan betapa hari penghakiman itu bisa datang setiap saat dan pasti terjadi. Oleh karena itu nasihat untuk berjaga- jaga perlu dilakukan oleh siapa pun.

Sekali lagi Yesus menggunakan contoh bagaimana sikap berjaga- jaga yang diperlukan. Ibarat seorang hamba yang setia dan bijaksana, maka sikap setia diperlukan, yaitu tetap melaksanakan tugas kapan pun waktunya, sehingga pada saat tuannya datang, ia puas melihat kesetiaan sang hamba.

Apa yang dimaksud dengan bijaksana? Bijaksana berarti benar- benar mengerjakan tugas yang diberikan tuannya, bukan tugas yang lain. Sebagai perbandingannya, Yesus juga menyebutkan contoh seorang hamba yang jahat adalah hamba yang tidak setia. Karena melihat tuannya tidak ada, ia menyepelekan tugas yang diberikan tuannya, mengganggu hamba yang lain bahkan bermabuk-mabukkan.

Hamba yang jahat juga disejajarkan dengan orang munafik, yang adalah gambaran pemuka agama Yahudi yang berbuat baik hanya ketika dilihat orang dan untuk mencari pujian.
Saudara, kita ada di mana ?
Hamba yang setia atau hamba yang jahat ?

Lakukan tugas pelayanan kita seperti biasa dengan setia , jadikan itu sebagai keseharian hidup yang mempermuliakan Tuhan. Amin.


Selasa, 19 Maret 2013

Melayani Orang- Orang Yang Sederhana


Matius 25 : 31 - 46

(31) Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.(32) Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing,(33) dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.(34) Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.(35) Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;(36) ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.(37) Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?(38) Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?(39) Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?(40) Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.(41) Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.(42) Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum;(43) ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.(44) Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?(45) Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.(46) Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal."

Santapan rohani hari ini :

Yesus banyak menggunakan perumpamaan atau ilustrasi berkaitan dengan sikap-sikap yang orang yang menyambut hari kedatanganganNya. Dalam Matius 25 : 31  - 46 ini Yesus menggunakan binatang domba yang dilukiskan sebagai umat yang baik, sedangkan kambing  adalah untuk umat yang jahat. Dikatakan bahwa pada hari penghakiman Tuhan akan memisahkan domba dari kambing. Yang masuk dalam kelompok domba akan menerima kerajaan yang telah disediakan, sedangkan kambing-kambing dihukum dalam api kekal bersama iblis dan malaikat-malaikatNya.
Apakah dasar penghakiman Tuhan? Bukan seperti yang dipikirkan oleh manusia, tetapi orang-orang yang dibenarkan oleh Tuhan bersedia melakukan pelayanan yang tidak popular, yaitu memberi makan orang lapar, memberi minuman orang haus, memberi tumpangan bagi orang asing, memberi pakaian orang yang telanjang, melawat orang sakit, dan mengunjungi orang yang dipenjara.
Tidak banyak orang yang suka melayani orang-orang yang tersingkir dan hina. Tetapi Alkitab memandang bahwa justro orang yang kesukaannya dan kesetiaanya dalam melayani kaum marjinal ini merupakan tanda bahwa seseorang sudah menjadi anak Tuhan. Hanya orang yang yang pernah dilayani Tuhan pada saat dirinya masih hina dan berdosa, bisa melayani siapa saja tanpa pandang bulu.
Kalau Yesus saja mau mengidentifikasikan diriNya dengan mereka yang miskin dan hina, siapakah kita merasa tidak level untuk melayani mereka ? Jika kita menganggap orang-orang miskin dan hina hanya sebagai beban, jangan-jangan kita belum menjadi milik Kristus, sehingga kita tidak memiliki hati Kristus yang penuh welas asih itu.
Dia sudah memberikan yang terbaik bagi saudara dan saya, apa yang kita mau hadiahi bagi Dia ?

Senin, 18 Maret 2013

Mengasihi Allah = Mengasihi Sesama


                                                                                                                                                                  
Efesus 4: 17 - 32

(17) Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia.(18) dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.(19) Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.(20) Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.(21) Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,(22) yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan,(23) supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu,(24) dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.(25) Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.(26) Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu(27) dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.(28) Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.(29) Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.(30) Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.(31) Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.(32) Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.

Santapan rohani hari ini :

Riset mengenai pemberdayaan manusia tentang kesuksesan menyatakan bahwa 15 persen ditentukan oleh pengetahuan dan ketrampilan yang dimilikinya, sedang yang 85 persen ditentukan sikap pribadi dan kemampuan berhubungan dengan orang lain.
Manusia baru adalah karakter manusia yang sudah ditebus dan dipulihkan oleh Tuhan. Ada beberapa hal yang  dilakukan oleh seseorang yang sudah mengalami pembaharuan dari Tuhan, yaitu :
·         Tidak melakukan pikiran yang sia- sia seperti orang yang tidak mengenal Allah.
·         Mempertajam perasaannya, sehingga menghindari hawa nafsu yang menyesatkan, keserakahan dan kecemaran
·         Mengenal, mendengar dan menerima Kristus, sehingga meninggalkan karakter manusia lama
·         Pembaharuan roh dan pikiran
·         Hidup menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan, sehingga tidak lagi berdusta, tidak pendendam, tidak mencuri, tidak berkata kotor, menghindari : kepahitan, geram, kemarahan, pertikaian dan fitnah
·         Tidak mendukakan Roh Kudus
·         Memiliki karakter pengampun

Rasul Paulus menuliskan hal tersebut sebagai prinsip rohani yang mendasar. Itu juga yang merupakan pedoman yang terpenting dalam mendapatkan hubungan yang menyenangkan dan membahagiakan. Semangat meneladani Kristus yang mengasihi sesama, semata- mata karena didasari oleh keinginan untuk taat kepada Allah dan bukan hanya keinginan untuk  keberhasilan dalam satu bidang tertentu.

Wujudkan karakter Allah yang kasih dengan mengasihi sesama. Dan karya terbesar sudah dilakukanNya dengan memberikan Putera-Nya, Yesus Kristus. Terpujilah Tuhan !.