Rabu, 03 Juli 2013

Talk Less Do More

Matius 14 : 13 - 21

(13) Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka.(14) Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.(15) Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa."(16) Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan."(17) Jawab mereka: "Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan."(18) Yesus berkata: "Bawalah ke mari kepada-Ku."(19) Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak.(20) Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh.(21) Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.


Santapan rohani hari ini :

Jalan mendaki dan sempit membuat mobil yang membawa kami ke sekolah Kristen Tomosa di Kecamatan Gido, Nias tidak terlalu leluasa bergerak. Namun perjalanan yang tidak mudah ini kami jalani dengan kesungguhan dan totalitas. Sampai di ketinggian, lalu turun lagu , terus melewati tikungan yang tajam.

Ternyata kedatangan kami sudah ditunggu oleh saudara- saudara kami yang saat itu juga tengah mengadakan rapat mengenai ujian sekolah yang tengah berlangsung. Dengan sarana yang begitu minim, namun tidak mengurangi semangat dari pendekar- pendekar pendidikan.

Sungguh, di tempat yang sederhana itu, saya menemukan suatu semangat mengabdi yang luar biasa. Dibandingkan dengan fasilitas tempat saya mengajar sungguh jauh, tetapi semangat dari para pengajar yang ada, saya tidak melihat ada yang kurang di sana.Motivasi mereka sungguh luar biasa.Saya banyak belajar.

Saat orang- orang melihat pendidikan sebagai investasi bagi masa depan, maka jiwa mengabdi menjadi soko guru menjadi asset yang lebih mahal dari apa pun.  Masalahnya adalah apa yang mendasari kita ketika melakukan pekerjaan tersebut ?

Tuhan Yesus, Sang Guru Agung , kepada Dia-lah yang menjadi tumpuan kita. Kita membaca dalam firman Tuhan hari ini, bahwa Dia selalu menjadi inspirasi bagi murid-muridNya. HatiNya yang selalu tergerak oleh belas kasihan dan  bertindak dalam kasih, seharusnya yang mendasari kita dalam melakukan pekerjaan apa pun.

Haleluya !