Senin, 07 Januari 2013

Saat Harapan Tak Tampak


                                                                                                                                                                 Ratapan 3 : 40 - 66

(40) Marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita, dan berpaling kepada TUHAN(41) Marilah kita mengangkat hati dan tangan kita kepada Allah di sorga:(42) Kami telah mendurhaka dan memberontak, Engkau tidak mengampuni. (43) Engkau menyelubungi diri-Mu dengan murka, mengejar kami dan membunuh kami tanpa belas kasihan.(44) Engkau menyelubungi diri-Mu dengan awan, sehingga doa tak dapat menembus.(45) Kami Kaujadikan kotor dan keji di antara bangsa-bangsa......
.
Santapan rohani hari ini :

Menurut kacamata Yeremia, seluruh rangkaian Ratapan 3 menyatakan bagaimana orang yang benar tidak serta merta dikecualikan dari penderitaan dan kesusahan yang terjadi di sekelilingnya. Ia tetap adalah bagian dari masyarkatnya. Justru dengan menjadi bagian masyarakatlah, iman orang benar memberikan sensitivitas untuk melihat dosa dan kesalahanya serta bangsanya secara realistis di hadapan Allah. Dari situ , iman orang benar memampukan dia kembali bangkit  dan memimpin masyarakatnya untuk kembali hidup lurus di hadapan Tuhan.

Di ayat 40 – 48, Yeremia meletakkan hasil refleksinya. Dalam konteks penderitaan yang tengah dia dan bangsanya alami. Kembali ke kenyataan hidupnya,Yeremia menyadari bahwa bangsa Israel memang layak mendapatkan hukuman Tuhan. Ia juga menyadari bahwa bangsa- bangsa yang Tuhan pakai untuk mendatangkan penghukuman kepada Israel begitu menikmati tugas yang Tuhan berikan untuk menghukum  Israel sehingga mereka bertindak sangat kejam.Ini mengakibatkan penderitaan yang begitu memilukan, terutama bagi para perempuan dan anak- anak kecil.

Yeremia menutup pasal 3 dengan permohonan. Yeremia menyerahkan kasusnya kepada Tuhan sebagai Hakim agar Tuhan kembali bertindak menegakkan keadilan dan menjalankan pembalasan. Iman Yeremia memampukan dia untuk memahami realita kehidupan dari kacamata Tuhan dan berharap, bahkan di saat tak tampak harapan.

Kelamnya penderitaan dan secercah harapan merupakan dua sisi jembatan dalam kehidupan kita. Mari kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita dan membiarkan Tuhan bekerja menurut waktu dan caranya.