Kamis, 23 Oktober 2014

Keberanian Dan Keyakinan Akan Allah

Daniel  3 : 8 - 18

Santapan rohani hari ini :

Menjadi tawanan adalah suatu keadaan yang sangat  menyesakkan dada, karena kehidupan atau kebebasan kita sesungguhnya terenggut  dan kemungkinan kita menghadapi kematian yang menyiksa. Orang- orang yang tertawan bisa dikatakan sebagai orang yang sudah setengah mati, dan kecil kemungkinan untuk bebas kecuali ada hal- hal khusus dilakukan sesuai dengan yang menawannya.

Dalam kitab Daniel Sadrakh, Mesakh dan Abednego adalah pemuda- pemuda Ibrani yang menjadi tawanan di Babel. Mereka menghadapi pilihan hidup dan mati karena masalah beribadah kepada Allah digantikan dengan memuja patung emas raja. Ancaman di lempar ke dapur api sudah di depan mata. Namun di tengah situasi krisis itu, mereka memilih untuk tetap taat kepada Allah Daniel 3 : 17 -18 menunjukkan betapa tegasnya mereka menolak menyembah yang bukan Allah.

Perhatikan kata- kata mereka,”jika tidak “ menunjukkan hal  yang luar biasa. Seandainya Allah tidak menolong pun dari ancaman dapur api, mereka tetap menunjukkan kesetiaan kepada Allah.

Saudaraku, bagaimana dengan diri kita ? Apakah kita mempunya keberanian yang sama di tengah situasi krisis seperti yang dialami Sadrakh, Mesakh dan Aednego? Situasi itu bisa saja seperti penyakit yang tidak sembuh- sembuh, ekonomi yang carut- marut, mengalami aib yang memalukan atau kehilangan sosok yang kita kasihi secara menyakitkan. Kita beriman kepada Allah, memohon campur tangan Allah, namun dalam situasi yang mengancam, permohonan yang kita ajukan menyertakan syarat.

Di Taman Getsemani Yesus pernah mengalami pergolakan batin yang luar biasa. Ucapan Yesus yang “sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaKu, tetapi jangan seperti Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” merupakan hal yang harus dicatat dalam hati dan pikiran ketika kita menghadapi situasi krisis tersebut.

Pertaruhkan hidup kita hanya kepada kasih dan kuasa Allah semata !


Rabu, 22 Oktober 2014

Berubah Hanya Karena Kristus

Kisah Para Rasul 20 : 32 - 38


Santapan rohani hari ini :

Saya mempunyai seorang keponakan  yang menggemari tokoh “Supeman” sang  hero yang suka menolong orang yang berada dalam kesulitan. Bagi Jof, Superman tokoh yang penting karena mampu memberi jalan keluar bagi mereka yang tengah berada dalam bahaya. Sebagaimana anak- anak kecil lain yang mengidolakan Sang Superman, dan berharap bisa menolong siapa saja.

Namun seorang anak tetaplah anak. Baginya jika ia tengah menginginkan sesuatu, maka ia harus memperolehnya karena itu berarti punyaku. Jika itu punyaku, maka tidak ada orang lain yang memilikinya. Siapa pun yang pernah mengenal anak kecil akan melihat sifat –sifat ini kental dalam diri mereka, maka tokoh hero seperti Superman pun tidak cukup untuk mengubah hal yang menjadi ciri khas  tersebut.

Rasul Paulus menjalankan kehidupan Taurat sebelum menjadi pengikut Yesus. Namun ketaatannya ada hukum Taurat tidak menjadikan dia sebagai seorang yang imun terhadap dosa. Sesudah mempelajarinya, ia menjadi tahu arti sebuah ketamakan. Tidak mungkin seorang menjadi sungguh berkenan kepada Allah hanya karena melakukan hukum Taurat.

Saudaraku, seseorang hanya bisa berubah hanya jika anugerah Allah menghampirinya. Keegoisan kita yang seperti seorang anak yang kalau menginginkan sesuatu harus terpenuhi, baru akan bisa berubah jika Yesus memberi hati yang baru di dalam dirinya.