Kamis, 24 Juli 2014

Disiplin Umat Tuhan

Titus 1 : 1 – 9

Santapan rohani hari ini :
Seorang kawan yang mempunyai bobot tubuh di atas 100 kilogram tengah berusaha menjalankan diet keras demi tercapainya berat tubuh ideal. Baginya ini menjadi ujian terberat karena dia harus menahan diri untuk tidak makan makanan kesukaannya yang rata-rata mengandung karbohodrat.

Mendisplinkan diri bukanlah hal yang mudah bagi orang yang terbiasa melanggar aturan, tetapi sesungguhnya merupakan cerminan dari moral kita. Mengapa saya katakan demikian? Karena tentu saja dalam kehidupan kita mengalami ujian dan pencobaan, dan disiplin adalah kunci bagi kita untuk memenangkan hal itu.

Rasul Paulus meminta kita untuk menguasai diri yang merupakan suatu tindakan pendisiplinan. Hal ini diperlukan bagi pemimpin gereja . Kekuatan dosa yang demikian besar bisa merusak siapa saja, termasuk mereka yang hidup dalam aktifitas kerohanian, pemimpin- pemimpin gereja, guru sekolah minggu, anggota paduan suara atau siapa pun.

Amsal 25 : 28 mengatakan bahwa orang yang tidak dapat mengendalikan diri( tidak disiplin) seperti kota yang roboh temboknya. Kita perlu mengingat firman Tuahn ini dalam menghadapi zaman yang serba suka- suka ini. Sekalipun rintangan berdisplin selalu ada, namun takkala kita kuat mengekang hasrat – hasrat kita dan hidup melekat dengan Allah, maka akan muncul dan lahir kebiasaan – kebiasaan baik yang terkontrol. Semuanya itu adalah karena Allah yang mengendalikan.

Saudaraku, belajarlah untuk mendisplinkan diri kita !


Rabu, 23 Juli 2014

Antitesa Ketamakan

I Timotius 6 : 6 - 19

Santapan rohani hari ini :

Salah satu sifat buruk yang dapat menjatuhkan dan menghancurkan kehidupan seseorang adalah ketamakan. Banyak orang kehilangan banyak hal justru pada saat dia ingin lebih banyak mendapatkan sesuatu. Mereka tidak dapat mengendalikan diri, ingin menguasai sesuatu, sementara demi tercapai keinginannya, mengorbankan banyak hal termasuk kehidupan orang lain.

Tamak adalah sifat ingin mendapatkan lebih dan lebih dari apa yang sudah kita punya. Biasanya diikuti oleh sikap ambisius, Lebih banyak uang, harta, kekuasaan dst. Orang yang tamak tidak pernah puas dan keinginan semakin besar untuk melakukan dan menghalalkan segala cara demi demi memperleh apa yang dia mau.

Surat Rasul Paulus kepada Timotius mengingatkan kita untuk mempercayai Allah, bukan kepada sesuatu yang tidak tentu seperti kekayaan. Paulus membangun budaya baru untuk mengatasi ketamakan yaitu dengan cara menjauhinya dan mengejar keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelemahlembutan.

Adapun kekayaan yang dimiliki sesungguhnya bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk diberi dan dibagi bagi mereka yang membutuhkan pertolongan.

Saudaraku, di tengah maraknya kasus korupsi, pemerasan, suap, maka firman Tuhan ini sungguh menjadi antitesa yang perlu dilakukan oleh setiap orang khususnya mereka yang memiliki kekayaan lebih. Kemurahan hati dan hidup cukup ( sederhana ) adalah antitesa ketamakan.

Mari belajar bersyukur kepada Allah atas apa yang sudah kita dapatkan dan belajar untuk rela berbagi dengan orang lain. Lakukan antitesa dari ketamakan itu !a