Jumat, 18 April 2014

Makna Salib Kristus

Lukas 23 : 26 - 32

(26) Ketika mereka membawa Yesus, mereka menahan seorang yang bernama Simon dari Kirene, yang baru datang dari luar kota, lalu diletakkan salib itu di atas bahunya, supaya dipikulnya sambil mengikuti Yesus.(27) Sejumlah besar orang mengikuti Dia; di antaranya banyak perempuan yang menangisi dan meratapi Dia.(28) Yesus berpaling kepada mereka dan berkata: "Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!(29) Sebab lihat, akan tiba masanya orang berkata: Berbahagialah perempuan mandul dan yang rahimnya tidak pernah melahirkan, dan yang susunya tidak pernah menyusui.(30) Maka orang akan mulai berkata kepada gunung-gunung: Runtuhlah menimpa kami! dan kepada bukit-bukit: Timbunilah kami!(31) Sebab jikalau orang berbuat demikian dengan kayu hidup, apakah yang akan terjadi dengan kayu kering?"(32) Dan ada juga digiring dua orang lain, yaitu dua penjahat untuk dihukum mati bersama-sama dengan Dia.

Santapan rohani hari ini :

Kebanyakan para koruptor yang menerima putusan pengadilan akan lamanya masa hukuman di penjara dan denda yang bersubsider biasanya mengajukan naik banding atau pikir- pikir dahulu. Beratnya hukuman yang dirasakan membuat mereka ada yang bersedih dan menyesal, namun ada juga yang masih merasa diperlakukan tidak adil dengan keputusan yang diterima. 

Tuhan Yesus ketika menerima putusan hukuman salib yang demikian berat tidak mengajukan argument apa pun. Dia hanya diam ketika didakwa, dihakimi, dianiaya yang tentunya semua itu sangat berat.  Bahkan dengan langkah pasti Ia menuju tempat penyalibanNya, diiringi ratap Maria ibuNya dan beberapa pengikut lainnya.

Yesus melarang mereka untuk menangisi diriNya, tetapi Ia meminta justru supaya mereka menangisi diri mereka sendiri.  Tentu hal ini sangat kontras. Tetapi Ia memang adalah Tuhan yang mengetahui apa yang terjadi ke depan, yaitu keadaan mereka yang semakin disulitkan dan mereka perlu mempersiapkan hatinya untuk itu.

Saudaraku, kematian Kristus di kayu salib adalah untuk memastikan tujuan hidup kita yang sesungguhnya. Hidup kekal yang kita raih, kita capai karena kematianNya. Oleh karena itu mari kita arahkan hidup ini bukan kepada kekinian, tetapi kepada kekelan yang telah dipersiapkan oleh Yesus.

Kiranya firman Tuhan hari ini menjadi kekuatan di tengah beratnya beban hidup yang sedang kita jalani. Iman menyebabkan kita tahu hasil akhir dari kematianNya, yaitu meraih kekekalan bersama- sama dengan Dia selamanya. Puji Tuhan !


Kamis, 17 April 2014

Ambisi Yang Kudus

Markus 10 : 35 - 45

(35) Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!"(36) Jawab-Nya kepada mereka: "Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?"(37) Lalu kata mereka: "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu."(38) Tetapi kata Yesus kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?"(39) Jawab mereka: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima.(40) Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan."(41) Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes.(42) Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.(43) Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,(44) dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.(45) Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

Santapan rohani hari ini :

Di dalam pemilihan Legistatif yang baru dilalui, kita melihat bagaimana setiap partai mengosong para calegnya dengan begitu menggebu- gebu. Tawaran visi dan misi serta aksi serangan fajar seperti menjadi sesuatu keharusan dan dipercaya mampu merebut hati pemilih.
Semua yang disampaikan para caleg begitu indah, begitu mulia, begitu menjanjkan, tetapi jika diamati lebih mendalam, semua sesungguhnya hanya merupakan ambisi ingin menjadi penguasa semata.

Memang ambisi tidak akan salah jika diikuti dengan kerja yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab, namun ambisi menjadi sesuatu yang mengerikan, baik bagi si caleg maupun akibatnya bagi orang lain. Mengapa ? Karena ambisi adalah suatu keinginan membara untuk mencapai kesuksesan atau mencapai sesuatu yang lebih baik namun sering dibelokkan pada hal- hal yang penuh kecurangan dan kelicikan yang  merusak.

Saudaraku, di tubuh gereja pun juga hal itu bisa terjadi. Yakobus dan Yohanes adalah murid- murid Tuhan yang mempunyai ambisi yang mengarah pada keegoan mereka . Sudut pandang mereka adalah menjadi murud Tuhan yang terhebat = KUASA.  Kemarahan murid –murid yang lain juga sebenarnya ambisi yang sama saja dengan kedua murid yang disebut sebelumnya.

Yesus meneladankan sebuah keteladan kepada para murid- muridNya untuk sebuah ambisi yang terbaik di dalam kacamata Allah, yaitu melayani Tuhan dan sesama.  Keegoisan hanya menghasilkan perselisihan, sedang ambisi yang berkenan di hadapan Allah adalah kudus dan menyatukan semua pihak.

Mari kita tumbuhkan ambisi yang sehat dan kudus untuk melakukan perkara – perkara besar dalam kehidupan. Hasilnya, Allah yang dimuliakan !