Sabtu, 20 Desember 2014

Lagi- Lagi Bencana Alam



Kejadian 1 : 26 – 28



Santapan rohani hari ini

Bencana tanah longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah sesungguhnya mengingatkan kita akan pesan Allah dalam proses penciptaan, yaitu bahwa seluruh ciptaanNya wajib kita pelihara. Kenyataannya bumi semakin tua dan alam mengalami eksploitasi sehingga seringkali berakibat tidak bersahabat dengan manusia. 

Negera Indonesia memang dekat dengan bencana. Bayangkan saja, kita memiliki 129 gunung api. Posisi  Indonesia juga berada di daerah lempengan, sangat rawan gempa. Belum masalah banjir , kebakaran hutan, gunung meletus dan bencana alam akibat kesalahan pengeboran seperti lumpur lapindo. Bencana hidrometereologi yaitu nyang berhubungan dengan iklim dan curah hujan seperti banjir, longsor, angin topan , air pasang,kekeringan, kebakaran hutan dan gelombang laut hampir mencapai 65 %.

Gejala lain misalnya panas yang demikian menyengat tiba- tiba akan diikuti oleh hujan yang lebat. Cuaca jadi sulit diprediksi.  Siapa penyebabnya ? KITA. Pemanasan global dan krisis iklim terjadi akibat perbuatan kita. Asap mobil dan motor, pabrik, pembangkit tenagan lsitrik ,peternakan dan penumpukan sampah memproduksi semacam gas yang memicu pemanasan global.

SIkap kita yang keliru adalah penyebab terjadinya kebanyakan bencana alam. Kita sewenang- wenang terhadap alam dan bukan bersikap harmonis. Kita “menakhlukan dan menguasai” lebih tepat jika disebut menginjak- injak. Upaya melestarikan alam seakan- akan lenyap seiring dengan keserakahan manusia.

Saudaraku, kita harus memilih sikap dalam memperlakukan alam. Pertama, kita mencemari dan merusak bumu. Kedua , menyayangi dan memeliharanya.
Mana yang saudara pilih untuk dilakukan ?

Disadur dari Buku Selamat Sehati karangan Andar Ismail.                              

Jumat, 19 Desember 2014

Yesus Vs Teologia Sukses



Lukas 6 : 20



Santapan rohani hari ini

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga”. Dalam bahasa aslinya “Ptokoi to pneumatic”, artinya : yang miskin dalam roh, atau lebih tepat :yang miskin dalam hati. Ungkapan ini meliputi semua orang, baik rang miskin maupun orang kaya asalkan bertobat sebab Allah mengasihi semua orang. Miskin yang dimaksud adalah arti kiasan atau arti rohani.  Yang miskin adalah orang yang memohon bantuan dari Allah.

Dalam Perjanjian Lama kata ptokhoi tertulis dalam bahasa Yunani yang berarti tertindas, orang- orang sengsara, atau orang- orang sengsara dan orang- orang miskin. Siiapa saja yang masuk dalam kategori itu? 

Pertama, masyarakat Yahudi yang merupakan lapisan masyarakat bawah, yaitu rakyat biasa. Kedua di atasnya adalah kelas sosial lapisan yang terdiri dari para ahli Taurat , para imam dan kaum bangsawan. 

Para Pengajar  Taurat yang disebut kelompok Farisi menindas rakyat secara moral, ,misalnya dengan memperketat peraturan puasa, hari Sabat dan perpuluhan. Para petani, peternak, nelayan dan orang kebanyakan tentu merasa tertekan dengan peratuiran yang demikian ketat.
Para imam yang sebagian besar termasuk kelompok Saduki menindas rakyat dengan perayaan ritual, misalnya tentang persembahan korban. Kambing yang hanya sedkit berbeda warna akan ditolak karena dinilai bercela dan kurang kudus. Akibatnya, rakyat terpaksa membeli kambing yang dijual di Bait Allah dengan harga mencekik oleh para kerabat kelompok Saduki. 

Umat awam atau rakyat jelata sungguh berbeda status ekonominya dengan para rohaniawan, yaitu para pengajar Taurat dan para imam. Umat awam tidak berdaya memprotes para rohaniawan. Umat awam ini adalah pekerja kasar yang banting tulang mencari nafkah sehingga merasa tertindas oleh peraturan para rohaniawan.  Mereka tidak punya andalan apa-apa. Mereka adalah warga kelas 2 dibandingkan golongan Saduki dan Farisi. Umat awam merasa lebih kecil lagi karena adanya paham teologis yang diajarkan oleh para Saduki bahwa sukses dan kaya merrupakan tanda perkenanan Allah, sedangkan miskin dan gagal merupakan pertanda hukuman Allah. Yang berbahagia atau yang diberkati adalah yang kaya dan sukses. 

Saudaraku, apakah sesungguhnya substansi ucapan Yesus tersebut ? Yesus justru membuat pernyataan yang bertolak belakang. Ia mengoreksi anggapan teologis yang sudah umum, yaitu bahwa yang miskin  adalah pertanda celaka atau kutukan dari Allah. Ia justru menyatakan bahwa Berbahagia adalah yang miskin di hadapan Allah. 

Berbahagialah setiap orang yang mengerti ucapan ini. Amin.

Disadur dari Buku Selamat Sehati karangan Andar Ismail