Senin, 11 Mei 2015

Mencari Sensasi ?





Santapan rohani hari ini :

Sesuatu yang baru dan tidak biasa seringkali menjadi sensasi yang menggemparkan. Sesuatu yang memikat dan kedengarannya hebat, keren, beda……pasti disenangi. Makanya tidak heran, ada mobil keluaran terbaru, langsung diserbu. Ada HP atau teknologi sejenis baru, apalagi dikatakan lebih canggih, lebih efisien, pasti langsung laku.

Apa yang disampaikan oleh Rasul Paulus juga dianggap ajaran baru bagi penduduk Athena yang senang mendengar sesuatu yang baru. Paulus diberi kesempatan untuk berbicara di tempat sidang terbuka yang disebut Areopagus. Entah karena mereka sudah mendengar tentang Yesus sebelumnya atau apa yang dibicarakan Paulus diangagp tidak menarik, maka dari semula tertarik kemudian berubah mengejek rasul itu. 

Injil yang intinya adalah pewartaan tentang Yesus dan ajakan Paulus kepada penduduk Athena untuk bertobat justru membuat mereka pergi. Mereka melihat hanya yang permukaan dan tidak mau mendalami isi dari pokok ajaran keselamatan yang disampaikan.

Saudaraku, bukankah ibadah yang seru, yang keren, menggemparkan, penuh dengan kejadian spektakuler juga kerap digandrungi saat ini? Banyak umat Tuhan beribadah mencari serunya, mencari teman baru, pasangan baru dan baru- baru yang lain. Tapi sesudah ibadah hati mereka tidak terisi dengan firman Tuhan, tetapi hampa. Mengapa? Karena mereka bukan mencari Tuhan Yesus yang menjadi pusat dari ibadah dan hidup, tetapi mencari berkat dan muzijat yang kelihatan lebih rohani.

Iman Kristen perlu didalami. Firman Tuhan perlu digali. Pelayanan harus ditekuni,bukan karena mengisi waktu luang, sekadar ikut- ikutan, atau bahkan mencari keuntungan diri sendiri. Mari uji diri kita melalui firmanNya yang suci. Amin.

Minggu, 10 Mei 2015

Kosmetika Rohani Vs Kesungguhan Melayani Tuhan





Santapan rohani hari ini :

Banyak orang mengambil cerita tentang kemarahan Yesus di Bait Allah untuk melakukan suatu pembenaran atas sifat marahnya. “Yesus saja juga marah!”, demikian kata banyak orang. 

Seharusnya kita melihat sebab mengapa Yesus menjadi demikian marah. Ia mengobrak- abrik para pedagang hewan dan penukar uang karena para pedagang ini mengambil untung dari situasi ibadah umat. Umat Israel yang membutuhkan hewan korban yang lolos dari sensor  dan hanya mempersembahkan uang halal, yaitu yang tidak bergambar penguasa Romawi. Maka para pedagang di Bait Suci ini memfasilitasi kepentingan umat dengan menyediakan hewan- hewan yang mulus dan uang yang halal. Jadi bagaimana dengan mereka yang sudah membawa sendiri dari daerah masing- masing? Tetap harus membeli dengan harga yang mahal. Misalnya mereka beli di daerah mereka sendiri 1 ekor merpati Rp.100.000,-, maka para pedagang ini menjualnya 10x lipat menjadi Rp.1.000.000,- Mereka kongkalingkong dengan para imam sehingga tetap harus membeli dari para pedagang yang ada di Bait Allah itu karena hanya hewan dan uang itu yang membuat mereka bisa datang beribadah secara layak.

Jadi pantaskah Yesus marah terhadap para pedagang itu ?

Saudaraku, bagaimana dengan kita ? Apakah ketika kita melayani Tuhan kita mempunyai motivasi terselubung semacam itu ?

Sudahkah pelayanan kita pada Tuhan dan sesama bersih dari kepentingan pribadi? Siapakah sesungguhnya yang kita layani ? Saya dan setiap saudara yang sedang melayani Tuhan perlu menguji diri kita, apakah ibadah kita jadikan komoditas dagang atau memang wujud rasa syukur kita kepada Allah atas keselamatan yang sudah dianugerahkanNya.

Halelua !