Rabu, 04 Maret 2015

Yesus Kawan Yang Sejati



Markus 6 : 45 - 52



Santapan rohani hari ini

Ketika kembali ke Medan setelah melakukan kunjungan ke Pulau Nias tahun 2014 yang lalu, pesawat yang saya tumpangi mengalami hampa udara. Posisi pesawat yang juga mendekati Bandara Kuala Namu juga tidak bisa mendarat karena adanya kabut asap akibat kebakaran hutan di Riau dan abu letusan G. Sinabung.

Menakutkan sekali ! Tetapi setelah pesawat berputar- putar di udara sekitar setengah jam, akhirnya pilot berhasil mendaratkan pesawat dan kami bisa selamat. Ternyata sinyal atau panduan dari petugas di bandara-lah yang  membantu sang pilot sehingga bisa mendarat dengan baik. 

Ketika gelombang dan badai terjadi di Danau Galilea, suasana di kapal para murid Yesus sangat mencekam. Kedatangan Yesus pun sungguh mendatangkan selamat dan sukacita, walau sebelumnya menimbulkan ketakutan karena dikira hantu. Yesus mampu menaklukkan badai yang mengamuk dan secara fantasis Ia berjalan di atas air. 

Saudaraku, saat ini mungkin badai hidup sedang melanda diri dan keluarga. Kita kuatir, takut, pasrah dan seperti kehilangan pengharapan. Kita tidak dapat menolong diri sendiri, dan orang lain pun tidak ada keinginan untuk membantu. Tidak ada seorang pun tahu betapa takut dan letihnya kita.  Hanya Yesus yang tahu !

Tangis kesedihan, luka yang dalam karena sakit hati, kekuatiran akan hari esok adalah tanda bahwa kita membutuhkan Tuhan. Yesus adalah kawan yang sejati bagi kita yang lemah, Ia mendengar teriakan minta tolong kita, sekali pun hanya di dalam batin yang terdalam.
Haleluya !




Selasa, 03 Maret 2015

Pengampunan Dan Pemulihan



Kejadian 50 : 15 - 21

Santapan rohani hari ini :
Salah satu kalimat yang menggetarkan doa Bapa Kami adalah “ampunilah kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”. Kalimat ini demikian sederhananya  , tetapi bermakna sangat dalam. Mengapa saya katakan demikian ? Karena pada praktiknya tidak mudah untuk mengampuni.

Ketika saya mendengar kesaksian dari Bapak dan Ibu Suroto, orang tua dari Ade Sarah yang terbunuh oleh mantan kekasih dan pasangannya yang baru, ternyata saya belajar banyak tentang pengampunan. Di tengah tawaran untuk aksi balas dendam untuk membunuh pasangan yang menghabisi nyawa puterinya dengan kejam, Allah melalui Roh Kudus berbicara pada kedua pasangan ini bahwa mereka bukan saja harus mengampuni para pembunuh itu, tetapi juga mengasihi mereka. Allah menyatakan bahwa kelak melalui suami istri ini kedua pasangan ini akan masuk dalam kehidupan kekal.

Tanpa pengampunan, kesalahan yang kita atau orang lain perbuat akan menjadi sampah di hati. Jika dibiarkan , baik yang berbuat salah atau yang terluka akan sama- sama terluka. Saudara-saudara Yusuf bertahun- tahun memendam rasa bersalah karena telah merusak hidup Yusuf. Ketakutan akan balas dendam pun dirasakan mereka. Tetapi nyatanya Yusuf tidak melakukan itu.

Setelah bertahun – tahun kehilangan kontak, Yusuf hidup merana tanpa saudara. Semuanya berakhir setelah saudara- saudara Yusuf bersujud  dan memohon ampun kepadanya. Suatu proses rekonsiliasi yang mengharukan. Yusuf pun menangis, sedikit pun tidak terbersit di hatinya untuk mengadili dan menghukum saudara- saudaranya itu. Iajustru memelihara hidup mereka.

Saudaraku, beban berat yang disimpan bertahun- tahun terhapus dengan tindakan pengampunan dan pemulihan dari Allah dalam kehidupan Yusuf dan saudara- saudaranya. Bagaimana dengan suadara dan saya? Bukankah dalam hidup bersama, kita sering menyakiti dan disakiti?

Yang terpenting kita lakukan adalah apa yang kita lakukan sesudah itu, memilih untuk membiarkan dan terus menjadi dendam seumur hidup atau mengupayakan pendamaian. Belajarlah berani untuk mengakui dan merasakan indahnya pemulihan.

Haleluya !!