Sabtu, 18 April 2015

Keadaan Kuat Dan Lemah



Roma 15 : 1 - 13


Santapan rohani hari ini :

Rasul Paulus dalam Kitab Roma mengajak umat Tuhan untuk meneladani Tuhan Yesus yang lebih memperhatikan sesama dari pada diri sendiri. Kewajiban kita sebagai orang yang dianggap lebih kuat untuk menanggung kelemahan orang yang lemah dengan cara mendukung mereka agar tidak jatuh dalam pencobaan. Yang kuat wajib mendukung yang lemah.

Paulus menggunakan istilah “kuat “ dan “lemah” untuk menggambarkan keadaan rohani oranng percaya. , “kuat “ menunjuk pada iman orang yang telah dewasa dalam Kristus sehingga peka terhadap masalah orang lain. “Orang yang kuat” adalah orang yang memahami kebebasan  rohani mereka di dalam Kristus dan tidak lagi diperbudak oleh hukum Taurat. Orang yang “kuat” adalah mereka yang hati nuraninya diterangi oleh firman Tuhan , lebih dari sekadar ketaatan mereka akan ritual dan tradisi hukum Taurat.

Sebaliknya kondisi “lemah” mengacu pada orang percaya yang imannya belum dewasa dan masih percaya pada ritual dan tradisi hukum Taurat. Mereka selalu merasa kepatuhan dan aturan dan tradisi hukum Taurat tentang apa yang boleh dimakan dan kapan mereka harus beribadah sebagai kewajiban. 

Mereka yang lemah iman  adalah orang Kristem yang dewasa rohani menghidupi kekristenannya dengan cara mengikuti aturan ketat dan seringkali  menghakimi sesama yang tidak sejalan dengan pandangan mereka.

Saudaraku, nasihat Rasul Paulus ini mengingatkan kita yang merasa kuat agar peka terhadap pergumulan saudara seiman kita yang lemah. Dampingi mereka, jangan ditinggalkan, jangan disingkirkan,jangan dipergunjingkan. Doakan ! 

Hendaklah kita menjadi panutan , bukan celaan bagi mereka yang lemah. Marilah kita belajar peka dan sedia memberi perhatian dan dukungan buat mereka yang lemah.  Haleluya !


Jumat, 17 April 2015

Cinta Tuhan Equal Peduli Sesama





Santapan rohani hari ini :

“Segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku”. Pernyataan Tuhan ini sangat tegas bagi kita, memperjelas misinya bagi orang- orang yang terhina, terpinggirkan dan tidak pernah dilirik oleh banyak orang apalagi dari kalangan menengah ke atas. 

Bagaimana Tuhan mengidentifikasikan dirinya dengan orang asing, gelandangan, bahkan para narapidana? Bukankah mereka adalah orang – orang yang tidak masuk hitungan , tidak penting dan tidak pantas diidentifikasikan dengan Tuhan?

Kita memang tidak pernah mengerti pikiran Allah. Jika kita masih berpikir bahwa kesetiaan dan pelayanan kita hanya bersifat vertical, hanya kepada Tuhan dan tidak ada relavansinya dengan sesama (hubungan horizontal),  maka sesungguhnya kita belum mengerti arti pengorbanan Yesus di kayu salib yang ditujukan kepada semua orang. Bukan untuk kalangan terbatas atau tertentu, tapi untuk seluruh dunia ini Dia mati. 

Bukan menjadi soal mengapa Yesus mengidentifikasikan diri dengan orang – orang yang tidak terpandang itu. Yang mau ditunjukkan oleh Tuhan melalui pernyataan itu adalah bagaimana kecintaan dan kesetiaan kepada Tuhan seharusnya terwujud melalui cinta dan kepedulian terhadap sesama.

Saudaraku, siapakah sesama? Tentu sesama tidak dibatasi dengan pemahaman yang “sama dengan saya”, dalam arti : agama yang sama, suku yang sama, status sosial yang sama, dan sama- sama yang lain. Mereka yang miskin dan tidak terpandang adalah sesama kita juga. Jika hidup kita lebih baik, maka selayaknya cinta kasihj dan kepedulian bisa kita berikan.

Kepercayaan kita kepada Tuhan harus terlihat dalam tindakan mengasihi sesama.  Cinta yang tulus kepada Tuhan adalah cinta yang ditujukan kepada sesama yang menurut kacamata dunia tidak layak mendapatkannya. 

Cinta Tuhan equal dengan peduli sesama.